Tadarus Puisi 2017

​Malam Tadarus Puisi Mojokerto 2017

Mengundang kawan-kawan untuk hadir pada:

Sabtu, 10 Juni 2017

Pukul: 20.00-selesai.

Tempat

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga

Jl. Jayanegara 4 Mojokerto

Acara:

[1] Pembacaan puisi dan musikalisasi puisi oleh penyair dan penikmat puisi

[2] Forum diskusi bersama Indra Tri Kurniawan, Akhmad Fatoni, Anjrah Lelono Broto, Saiful Bakri, dkk.

Pemandu Acara

Kukun Triyoga

Acara gratis dan terbuka untuk umum

Narahubung

Mochammad Asrori

HP/WA: 085231586507 

Iklan

Pikiran Buruk

Tidak semua orang memiliki pikiran positif. Ada kalanya seseorang selalu saja yang lahir dari pikirannya selalu buruk. Entah bagaimana mulanya. Bisa jadi sejak dari kluwat. Iya, mungkin saja. Jadi, biarkan saja bila ada yang selalu berpikiran buruk kepada kita. 

Lebih baik kita melakukan sesuatu yang menurut kita baik. Mengabaikan pikiran buruk orang-orang terhadap kita. Jika bisa seperti itu, kita bisa memproduksi banyak hal baik sedikit demi sedikit. Jika hal baik itu sudah berjibun, tentunya hal buruk itu akan tertimbun di dalamnya. 

Jika selalu saja mengikuti pemikiran buruk orang, kita tidak akan bertindak. Kita akan termakan pikiran buruk tersebut. Larut. Kita akan menjadi makhluk mandul tanpa kreativitas dan pasif dalam memproduksi hal baik. Menyeramkan.

Oleh karena itulah, kami laskar sampah, tidak lagi peduli dengan pikiran buruk. Sampah memang buruk. Membuat setiap orang yang melihat jijik. Namun kami menolak pikiran buruk itu. Kamu mengulurkan tangan kepada sampah-sampah. Kami menjadikan mereka benih kreativitas dan disulap menjadi alat-alat musik modern. Kami menjadikan sampah-sampah itu produk ekonomi kreatif. Kami menjadikan sampah-sampah itu kostum yang akan diperagakan dalam event-event. 

Kami, laskar sampah, akan terus menelan pikiran buruk. Dan kamu, orang-orang berpikiran buruk, terus lanjutkan berpikiran buruk. Pikiranmu itu akan tertimbun hal-hal baik. Percayalah. Gusti Allah Ora Sare. 

Suara Hati Penestapa

Rasanya pilihan judul tulisan ini seperti begitu menyedihkan. Lantas apakah tulisan ini memang berisi sayatan kesedihan? Ah, entahlah. 

Jelasnya, tulisan ini mewakili suara orang-orang yang (sedih) ditanya “kapan nikah”? Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sulit karena memang mencari jawabannya tidak semudah menjawab pertanyaan: sudah sarapan? Sudah mandi? Semalam tidur pukul berapa? Warna favorirmu apa? Yah, pertanyaan soal menikah memang sulit dijawab. Tentunya ketika ditanya, rasanya ada gelombang campur-campur dalam dada. 

Hal itulah yang akhirnya membuat saya memilih judul tersebut. Lah, tulisan ini merupakan buah dari ketabahan menampung pertanyaan yang menyesakkan itu secara bertubi-tubi. Innalloha maashobirin. Semua akan indah pada waktunya. 

Jika kamu belum menikah, tentu betapa menyedihkan jika mendapatkan pertanyaan itu terlontar kepadamu bukan? Yah, setidaknya itulah yang dulu kerap kali saya rasakan. Sampai pada akhirnya saya mampu menemukan jawabannya dengan mengucap penuh kesungguhan dalam hati: saya niat lahir dan batin tahun depan menikah. Yah, itulah jawaban dari puluhan hingga ratusan pertanyaan yang tidak berperasaan itu. 

Sampai pada waktunya, turunlah ijabah dari doa saya itu. Tepat pada hari Minggu, 21 Mei 2017 lalu, akhirnya saya menemukan terminal perhentian. Berhentinya hati ini setelah lama berkelana dan mengarungi samudra kesunyian. Juga menampung kenestapaan dari pertanyaan-pertanyaan menyakitkan yang tidak menemukan jeda. 

Jeritan hati penestapa akhirnya terkuak. Pem-bully-an akhirnya berubah menjadi ucapan selamat. Orang-orang yang selama ini menghujani kenestapaan berganti menabur ucapan selamat dan doa-doa. Ah, ini ketulusan atau sekadar basa-basi? Entahlah. Setidaknya, jawaban saya sudah terlontar. Mereka pun akhirnya menutup mulut rapat-rapat. Yah, doa saya, semoga kamu yang kerap mendapatkan kesesakan dada karena pertanyaan serupa, bisa secepatnya menemukan jawaban. Saya berada bersama kamu. 

Tentunya, momen indah itu pula yang ingin saya bagi di sini. Sebagai pengganti jeritan para nestapa. Biasanya saya kerap mengabadikan momen seperti ini dan baru kali ini saya mengalaminya. Semoga ini yang pertama dan terakhir. Ada juga yang ganjal dari momen indah saya itu yaitu pemasangan cincin. Biasanya calon lelaki yang memasangkan ke jari calon perempuan. Lah, saat acara saya, semua beralih dan berubah. Cincin itu dipasangkan oleh Emak saya. 

Saya kala itu, hanya bisa melihat dengan rapalan doa-doa (semoga mustajabah). Cincin saya keluarkan dari kotak, lalu diambil Emak dan dipasangkan ke jari manis perempuan yang siap menampung jiwa saya yang sudah lama terkatung-katung. Beda. Apalagi saya lihat, jemari bidadari saya itu terus dipegang hingga iringan salawat selesai dilantunkan. Bibir Emak tak henti merapal doa. Doa yang entah apa. Semoga saja doa itu membuat kita jadi pasangan Samawa. Amin.

Ya, momen itu tentunya sesuatu. Beda. Meskipun berkali-kali saya memotret pertunangan, kala itu saya masih tetap berkeringat dingin dan hati berdebar-debar. Dahsyat. Tentunya indah. Seindah ketika aku melihat tatapan mata perempuan penyita hati saya itu. Duh, syahdu nian. 

Berikut ini momen itu akan saya lampirkan sebagai penutup kenestapaan. Yah, sekaligus sebagai doa tentunya. Doa agar nestapa berganti dengan bahagia dan rekah senyum dalam jalinan keluarga yang akan kita bina. Semoga.

(Proses masih terkendala, foto menyusul)

Ramadan: Semua Boleh Naik

Ramadan 1438 H/2017 M yang ke-9 ini telah membawa saya pada sebuah hasil kontemplasi. Kontemplasi yang entah bagaimana prosesnya. Jika dikatakan di pagi ini maka jalan kontemplasinya begitu cepat. Akan tetapi, jika dilihat dari runutan prosesnya, tentunya banyak kejadian yang masuk dan terkumpul hingga mencapai titik kulminasi di pagi ini. Ya, begitulah akhirnya terlontar secara tiba-tiba seperti kera sakti yang lahir dari batu, kontempatif itu menyeruat: Ramadan itu bus umum.

Bus umum? Begitulah kontemplatif saya dari berbagai kejadian yang mampu saya rekam. Lihat, dengar, pegang, cium, bau, hingga saya alami sendiri. Ramadan tidak menentukan penumpang. Semua boleh naik, jika merasa satu tujuan. Tidak peduli wanita, laki, kuli, supir, guru, dosen, penyair, pelukis, seniman, budayawan, wartawan, mlijo, petani, peternak, pokoknya semua ragam yang ada di dunia ini selama merasa satu tujuan boleh naik. 

Namanya bus umum, jauh atau dekat itu bergantung penumpangnya punya tujuan ke mana. Bus pun tidak bertanya, kamu puasa atau tidak? Pokoknya merasa satu tujuan (Islam), silakan naik. Tentunya jarak itu yang menentukan penumpangnya sendiri. Meski pagi sahur, siang mokel, dan sore buka bersama, bus tidak mempermasalahkan. 

Ada juga, tidak puasa tapi ritual lebaran dinikmati seolah merasakan perjuangan puasa. Ramadan atau bus tidak peduli akan hal itu. Ya, sekali lagi bus cuek saja. Satu tujuan silakan masuk. 

Pencapaian kontemplatif itu, membuat saya memecahkan ke persoalan lebih luas. Persoalan yang mungkin beberapa bulan ini terjadi pada diri saya. Tentunya, jika saya bisa seperti Ramadan dengan menjadi Bus, tidak akan ada sesuatu beban yang serius. Beban manusia itu diciptakan sendiri. 

Ya, beban itu diciptakan sendiri. Dulu, saya tidak punya beban ketika ditunjuk sebagai ketua karang taruna dusun. Tidak punya beban ketika ditunjuk menjadi koordinator kebersihan desa. Tidak punya beban menjadi dosen dengan kondisi mahasiswa yang spiritnya kembang kempis dalam belajar. Tidak punya beban menyelenggarakan kegiatan kesenian. Tidak punya beban mencintai seorang perempuan dengan kasih yang tulus dan kesetian yang tak tergoyangkan. Hampir semuanya tidak ada beban sedikit pun. 

Namun, ketika kaki sudah dilangkahkan dan hati sudah ditata. Maka muncullah pernak-perniknya. Pernik kecil, karena terlalu kecil kadang diabaikan, sampai akhirnya membesar dan menyilaukan. Ketika sudah silau, maka semua pada memperhatikan. Tentunya, hal yang indah itu memunculkan dua peminat: kagum dan membenci. Orang yang kagum, maka akan dipuja dan memberi dukungan.  Orang yang membenci, maka akan mencela dan cara menjatuhkan. 

Lah, jika hal itu dihadapi dengan ruwetnya pikiran maka akan dianggap beban. Padahal hal itu juga munculnya dari keteledoran atau abainya tentang hal kecil. Saya pun akhirnya terkepung dengan segala aktivitas tersebut. Semua seperti saling menusuk dan tidak mendukung. Satu aktivitas menggerogoti aktivitas dan perhatian yang lainnya. Semua bermuara pada satu titik, pecahlah kepala. 

Hampir diri ini putus asa. Sampai akhirnya di Ramadan ke-9 ini membuat saya menemukan bus. Ramadan itu mirip bus. Tentunya, saya harus bisa menjadi bus. Terus berjalan dengan tujuan bermacam-macam. Permasalahan dengan tujuan ini, jika memang itu perlu diperhatikan dan untuk perbaikan diri ya diterapkan. Sisanya, cuek saja, karena itu kecemburuan yang membuat jatuh. 

Ya, menjadi bus atau tidak memperhatikan yang menjatuhkan dan terus berjalan hingga tujuan harus dilakukan. Selamat menaiki bus. Selamat menjalankan Ramadan. Selamat beraktivitas. Tentunya, senyum itu adalah ibadah. Bus saya pun harus penuh senyuman. Sampai jumpa di tempat tujuan. Tabik.

Abu-abu

Bung, jangan lihat abu-abu kami

tapi lihat merah yang menyala dari

kelopak mata kami.

Bung, mata ini telah merah

dan mengangah bersama senja

menjadi ranum dalam pekat malam.

             dan ini kami

              inilah merah kami

Adakah merahmu, melebihi merah

mata kami. Abu-abu ini adalah

kuncup dari rekah-rekah kata

yang kami dapatkan dari matamu.

Kami tidak hanya abu-abu

             dan kau Ning,

sisihkan gincumu yang merah itu

jika tak bisa melebihi merahnya 

              Mata kami
Mojokerto, 20 April 2017

  

Peluncuran Majalah Bahasa Jawa “Mapah Mangsa”

​Hujan sejak sore mengguyur, tetapi tidak memadamkan niat para pemuda dan pemudi yang tergabung dalam Pergerakan Kebudayaan Prosa. Mereka bertemu dan berkumpul di sebuah cafe untuk melakukan peluncuran majalah mereka. 

Saya benar-benar kaget. Acara sangat ramai. Acara pun beragam, mulai dari stand up comedy, musikalisasi puisi, hingga orasi kebudayaan. Edan tenan. Juancok pol kok arekarek iki. Itulah yang saya sampaikan ketika membuka sedikit orasi dalam acara itu. 

Tentu, mereka perlu didukung. Generasi seperti merekalah yang mampu menciptakan gerakan nyata. Namun sayang, saya tidak bisa mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Setelah memberi orasi budaya, saya pun pamit undur diri. 

Tentunya, sebagai rekam jejak. Kamu bisa mengintipnya melalui foto-foto berikut:

Merekalah yang menyambut dan menghangatkan saya tatkala datang dengan kondisi kedinginan karena hujan mengguyur dengan derasnya. Dan akhirnya saya pun menambah kehangat dengan wedang uwuh juga akhirnya.
Salah satu rangkaian acara, musikalisasi puisi.
Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Pelaksana menyampaikan visi dan misi Majalah Mapah Mangsa. Juga tentang muasal yang menjadi pematik munculnya majalah Mapah Mangsa.
Para cowok-cowok yang rela tidak apel ke rumah pacarnya hanya demi menyaksikan dan menghadiri acara ini.
Selain cowok-cowok keren, hadir pula cewek-cewek cantik yang rela bedaknya luntur karena menerjang hujan demi acara ini.
Kalau ini adalah poster promosi yang mereka gunakan untuk promosi acara. Dan hasilnya, meskipun hujan deras, sudah mampu mendatangkan kurang lebih 25 orang.
Kebetulan nak edisi perdana iki aku mlebu nak rubrik SOSOK WONG SANGAR. Iki mung kebetulan loh rek. Serius, profil saya muncul di majalah ini hanya sebuah kebetulan semata.

Jika Soekarno berkata “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugonjangkan dunia.” maka dengan gerakan ini pasti akan mampu menggoncang dunia literasi. Mereka lebih dari sepuluh. Tentu akan mampu menciptakan dan meledakkan sesuatu. Semoga.

Info Perihal Majalah:

Majalah ini merupakan majalah triwulan. Edisi pertama Januari s/d Maret 2017. 

Harga Pulau Jawa Rp18.000

Harga Luar Jawa Rp25.000

ISSN: 2548-9658

.

Susunan Redaksi:

Pelindung/Penasihat: Suyitno Ethek, S.Pd., M.Pd.

Pimpinan Redaksi: Faisal Achmad

Pimpinan Pelaksana: Fajar Laksana

Sekretaris Redaksi; Sri Suryani

Editor: Zandy Titis

Desain/Layout: Fuad Nuriyanto&Gejot Master

Fotografi: Andreas Dwi P. &Hudan Fajar R

Manajer Iklan: Hanip Rizki R&Ryandhica Angga

Humas: Harjunot Purwanto&Megayati

Seni Budaya: Mahardika&Ridwan Rustamaji

Kepemudaan: Hikam Alfiansyah, Atma Risanti, Yunia Sanny&Esveraldo

.

Majalah ini diterbitkan: 

PERGERAKAN KEBUDAYAAN PROSA

Alamat: Jalan S. Parman 18, Modopuro RT01 RW06, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.

Email: mapahmangsa@gmail.com

mapahmangsa.wordpress.com

HP. +62813-9103-6155

PESTA PEKAN SASTRA #2


Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Majapahit (Unim)

mempersempahkan:

PESTA PEKAN SASTRA #2 (17-21 April 2017)

Sastra Pusaka Bangsa
Rangkaian Kegiatan:

LOMBA BACA PUISI

Jenis lomba Individu

Pendaftaran Rp50.000

LOMBA MENULIS CERPEN

Jenis lomba individu

Pendafaran Rp50.000

LOMBA MUSIKALISASI PUISI

Jenis lomba kelompok

Pendaftaran Rp110.000

(Maks. 6 orang)

LOMBA STAND UP

Jenis lomba individu

Pendaftaran Rp50.000

Kategori lomba:

1. Pelajar SMA/MA/SMK sederajat

2. Umum dan Mahasiswa
HADIAH:

1. Tropi

2. Sertifikat

3. Uang Pembinaan
BONUS ACARA:

Pelatihan Menulis

Kamis, 20 April 2017
SEMINAR:

“Sastra Pusaka Bangsa”

Jumat, 21 April 2017
Pendaftaran:

13-31 Maret 2017

Pada hari kerja (Senin-Jumat) di Gedung Hajar Ibrahim
Technical Metting:

3 April 2017

Pukul 13.00 bbwi

Tempat:

Universitas Islam Majapahit (Unim)

Jalan Raya Jabon 0,7 KM Mojokerto. 61364
Narahubung:

Zain (0856-4964-6963)

Gerakan Kebersihan Lingkungan

​Laporan rapat bersama Perangkat Desa

Kamis, 23 Pebruari 2017

Notulis: Akhmad Fatoni (Ketua Umum Kartar Karya Remaja Dusun Sumbertani)
Sore hari, sekitar pukul 3 sore, saya mendapat pesan dari Kepala Desa. Pesan itu berisi undangan rapat yang akan membahas kebersihan lingkungan. Saya diminta mengajak yang mengeloh sampah karang taruna Karya Remaja. Maka dari itu, saya mengajak Saudara Alifir dan Krisdian Efendi. 

Kira-kira setengah 8 malam, saya bersama dua orang relawan sampah Karya Remaja menuju rumah kepala desa. Rumah masih sepi, hanya ada Saudara Buasim. Entah ia menjabat apa di pemerintahan desa, saya kurang paham. Yang jelas, ia adalah orang kelahiran Dusun Sumbertani dan menikah dengan orang Dusun Banyurip. Tentunya, ia orang yang dermawan pula. Ia kerap membantu tenaga, pikiran, dan biaya untuk pergerakan di tanah kelahirannya ini. Baik kegiatan karang taruna Karya Remaja ataupun RBAF. 

Tidak lama setelah itu, datang ketua karang taruna Dusun Banyurip bersama wakilnya. Baru kemudian disusul Ketua BPD. Acara digelar lesehan. Setelah karpet digelar, Ketua Karang Taruna Desa datang, Mas Hari Bondan. Acarapun di buka, sambutan sekilas. Lalu dilanjut dengan diskusi terbuka. Topiknya masalah kebersihan lingkungan. 

Setelah acara dimulai, ketua LPM hadir dan turut dalam pembahasan ini. Kepala Desa Mojorejo ingin di daerah yang ia pimpin ini kebersihan lingkungannya terjaga. Beliau tidak ingin lagi melihat sampah di parit, sungai, ataupun di jalan-jalan. Beliau sudah jengah, hingga akhirnya menetapkan perdes (peraturan desa) mengenai kebersihan lingkungan. 

Beliau optimis, karena karang taruna Karya Remaja Dusun Sumbertani, yang merupakan salah satu dusun dari delapan dusun yang dipimpinnya, mampu melakukan gerakan kebersihan lingkungan. 

Diskusi panjang lebar pun terjadi. Tidak ada saling gontok, adanya banyolan dari ketua BPD, Kak Irul, yang meski tampangnya kereng ternyata humoris. Gelak tawa pun pecah. Suasana tegang, mencair kembali. Rapat dengan model diskusi terbuka berjalan lancar. Berikut rumusan rapat tersebut:

1. Pemerintah Desa Mojorejo mengeluarkan Perdes kebersihan lingkungan. Isinya, seluruh warga Desa Mojorejo wajib menjaga kebersihan lingkungan. Bila ada yang melanggar akan dikenakan denda sebesar Rp100.000. Dan bila ada yang bisa membuktikan orang buang sampah sembarangan, terutama di selokan atau sungai, akan diberi insentif Rp50.000 (bukti foto). Bila tidak mau membayar, setiap keperluan adminitrasi di desa akan dikenakan biaya.

2. Desa memberi fasilitas TPA, Mobil pengangkut sampah, seragam petugas sampah, dan tempat sampah di beberapa titik (drum bekas).

3. Warga wajib membayar iuran kebersihan Rp1.000 per minggu. Uang tersebut digunakan operasional kebersihan.

4. Penerapan lingkungan bersih akan diberlakukan per 1 April 2017. Sejak putusan ini ditetapkan, seluruh Kepala Dusun wajib menyosialisasikan ke seluruh warganya.

5. Banner sosialisasi akan difasilitasi pemerintah desa. Bulan Maret 2017, target sosialisasi rampung.

6. Masing-masing dusun diberi wewenang menentukan petugas pemungut sampah. Jika tidak ada atau tidak sanggup, maka dipasrahkan pemerintah desa. Kemudian pemerintah desa akan menunjuk petugas, yang akan membantu dusun tersebut.
Tentunya hal itu merupakan gerakan positif. Kita, karang Taruna Karya Remaja akan mendukung penuh program tersebut. Dan sebuah kebanggaan ketika gerakan cinta lingkungan yang digerakkan kartar Karya Remaja Sumbertani dijadikan percontohan pemerintahan desa. Sungguh, ini sangat mengharukan.

Karya Remaja Terus Bergerak

Program yang saat ini digerakan yaitu pengelolaan sampah kering. Sungguh terimakasih kepada seluruh warga yang telah membantu program ini. Tanpa bantuan warga niscaya ini tidak berjalan. Sisanya, tinggal menunggu hati anggota karang taruna tergerak turut membantu. 

Siang ini, sampah-sampah ini dijemur di pelataran rumah. Biar tidak bau. Biasanya saya dibantu Baztian Petros dan Aris Anggun Sholiha. Namun sejak tiga hari yang lalu, saya meminta ia mewakili Karya Remaja membersihkan rumput di lapangan. Pembangunan pasar akan segera direalisasikan. 

Tentunya ini adalah gerakan membangun Dusun Sumbertani dan Desa Mojorejo pada umumnya. Gerakan seperti ini tidak ada uangnya, jadi saya memaklumi jika teman-teman belum tergerak membantu. Namun semenjak tahun lalu, ketika saya ditunjuk dan diberi amanah. Maka inilah yang menjadi tanggung jawab saya. Dan terimakasih kepada seluruh pengurus, sudah berkenan membantu. 
Dan semalam, saat gerimis merindu gerakan tahlilan, yang akhirnya berubah menjadi Istiqosah karena saran dari tokoh agama Dusun Sumbertani dengan alasan rutinan tahlilan sudah dilakukan warga, ben karang taruna Istiqosah wae. Ngunu. Dan oke. 

Kegiatan itu dilakukan rutin setiap hari Jumat, ba’da Isya. Lah, Jumat ngarep, bukan Jumat malam ini, Istiqosah bertempat nak langgar kulon. Ambek gowo kas 2 ribu gawe tuku puluran. Rembukan wingi, sepakat nggak diisi arisan. Mung cukup rutinan wae. Lah, nek ngisi 20 ewu piye? Yo ora opo-opo, toh iku gawe rejeki sampean dewe. 

Kabar gembira liyane, Aba Saipul siap nukokno alat terbang, be e pengen bentuk banjari, terbangan, kuntulon, opo qosidah. Lah, kabeh iku, nari sampean. Gelem nopo purun. Nek coro aku, gelem tok wong wis onok sing biayayai. 

Gerakan liyane, iku drum band. Iki kari kelompok 2 sing durung terbentuk. Kelompok sing anggota e arek karang taruna. Ndang meluo. Ora bayar. Bayar alat wis ditanggung ambek arek-arek sing tergabung nak kelompok 1.
Monggo, niat e ditoto maleh. Niki gerakan sae. Gerakan Karya Remaja sampun tersebar di seluruh dusun di Mojorejo. Sebab setiap pertemuan, Pak Lurah menceritakan gerakan Karya Remaja ini. Tidak hanya itu, sama Pak Lurah juga diceritakan di kecamatan. Alhamdulillah.

Saya bangga kepada pengurus dan anggota karang taruna Karya Remaja. Kalian keren. Tanpa kalian semua, nama Sumbertani tidak akan dibincangkan di sana-sini. Juga seluruh warga Dusun Sumbertani yang banyak membantu, juga para pamong. Sungguh, saya ucapkan terimakasih sanget. I LOVE YOU FULL.

Kopdar dengan Blogger

Istilah itu tidak pernah tebersit sedikit pun di kepala saya. Entah kenapa bisa begitu. Baru kali ini saya ngeblog dengan cuek. Ternyata kecuekan saya itu membuat saya kenal bebeberapa teman blogger, yang membuat saya mengikuti blognya atau sebaliknya. Padahal sebelumnya, blog saya tidak pernah ada yang mengikuti. Komentar pun juga tidak. Dan anehnya, di blog ini, ketika saya cuek dan tidak peduli dengan domain, blog saya ada yang berkomentar dan mengikutinya. 

Kok bisa? Saya pun tidak bisa menjelaskan hal itu. Jelasnya, saya berniat cuek. Kecuekan itu jelas dari judul blog ini: Celoteh Akhmad Fatoni atau saya menyebutnya  CAF, mengikuti pola rekan blogger yang mengunakan pola sama persis. Terimakasih telah memberi inspirasi. 

Kembali lagi soal Kopdar. Saya tidak tebersit sedikit pun, tentunya, jika di antara teman-teman blogger saya yang tinggal satu kota. Marilah kita kopdar. Emang Mas tinggal di mana? Saya tinggal di Mojokerto. Ya, setidaknya saya bisa kopdar dengan rekan Sidoarjo dan Surabaya. Tentunya, saya ingin merasakan nuansa bertemu, bercakap, dan berbagi dengan rekan blogger. Ah, bagaimanakah rasanya?