Abbad, Pilkada, dan Piala Dunia

Pandanglah dunia. Amati. Pahami. Biar kelak kau tidak terbawa, tapi bisa mengatur semuanya, bukan sebaliknya.

Nak menjelang kaulahir, kau disambut dengan pembukaan piala dunia. Kala itu, ibumu sedang merasakan sakit bukaan 1. Petanda kauhendak hadir di antara kami. 

Hari kedua piala dunia, ibu dan ayahmu mulai muter cari bidan dan dokter. Namun ternyata ini kesulitan tersendiri, lebaran banyak bidan atau dokter mudik atau tidak berdinas. Mau tidak mau, ayah dan ibumu berkeliling. Pertama menuju RS Sido Waras, lalu menengok ke Puskesmas Bangsal. 

Tempat terdekat sudah tidak mumpuni, akhirnya ayah dan ibumu diminta mbah ti untuk berangkat ke Mojosari. Saking paniknya, sesampai di RS Kartini ayah menanyakan dokter kandungan, harusnya ayah menyampaikan kalau istri hendak melahirkan. Ayah mendapat jawaban bahwa tidak ada dokter kandungan yang dinas malam itu. Tentu ayah panik. Lalu ayah membawamu menuju ke RSUD Mojosari. Ada penanganan.

Penanganan di RSUD kurang ramah, namun karena butuh, ayah dan ibumu menerima saja perlakuan itu. Katanya masih tetap bukaan satu. Negosiasi antara bidan jaga dan dokter kandungan terjalin via telpon. Lama. Ayah sampai jengkel. Akhirnya memutuskan menunggui mereka. 

Tentunya, mereka amat tidak nyaman ditunggui. Namun demi kau dan ibu, maka ayah pun berargumen. Adu mulut. Dan ayah tetap duduk di samping mereka. Menunggu. 

Si dokter ditelp tiga kali, nyambung. Katanya, boleh pulang. Tanpa babibu. Ayah mengabarkan ini pada ibumu dan juga mbah ti juga mbah kung. Adminitrasi selesai. Ayah memutuskan kita singgah di rumah pak de dan bu de, kakak dari ayahmu. 

Beberapa jam di sana, ibuku merasakan perutnya muyekmuyek. Akhirnya sesuai saran dari pak de, kita pun meluncur ke RS Kartini. Hasil periksa, bukaan tiga. Ibumu diminta tinggal. 

Sampai akhirnya, esoknya pukul 10.30 kaulahir itu. Jadinya, sekeluarga tahun ini merasakan momen lebaran di RS. Sembari menunggumu. 

Dan besok, ketika kautepat berumur 12 hari, ada pilkada serentak. Pemilihan gubernur. Dua calon. Calon pertama, Khofifah dan Emil. Calon kedua, Gus Ipul dan Mbak Puti. Jadi nak, kauhadir bersama momen besar. Selalu.

Iklan

Banjir Ompol

Si Abbad sedang diajak oleh Mbah Kung e. Senyumnya ituloh yang bikin gemas.

Tidak terasa, kaulahir ke dunia ini sudah sepuluh hari. Banyak perubahan yang terjadi. Cara merawatmu tidak bisa ayah gunakan panduan di buku merawat bayi atau anjuran dokter. Beda. Semua tidak berlaku. Memang, ada beberapa hal yang sama. 

Maka dari itu, ayah memilih membaca tanda-tanda darimu ditambah dengan bertanya pada mbah dan para sepuh. Ya, itu cara ayah dan ibumu menyikapi perbedaanmu nak. Tidak jarang pula ayah dan ibu belajar dalam merawatmu dari mbah. Memang, ayah dan ibu belum pernah merawat bayi. Kau yang pertama nak. 

Hari ini, pipismu makin banyak. Dan hari ini akhirnya ayah dapat giliran kaupipisi. Inilah saatnya ayah belajar darimu. Belajar ikhlas dan sabar. Bagaimana tidak, ayah baru saja mengganti popokmu. Lalu ayah menggendongmu. Curr. Hampir saja baju ayah basah kena pipismu. 

Ayah menyiapkan popok dan bedak. Ayah mengganti popokmu. Tentu dengan perasaan gemas, ayah ngudang dirimu. Curr. Duh, kali kedua ayah kaupipisi nak. 

Ayah berupaya sabar. Ayah mengganti popok dan memberimu bedak. Brutt. Wah, kok kentut. Jangan, jangan mau eek. Namun ayaj terus saja memasang popokmu. Namun setelah terpasang, ayah tidak langsung menggendongmu. Ayah bercerita dengan ibu. Kita tertawa. Lalu ibu menungguimu dan benar, kau akhirnya eek. 

Setelah sudah bersih. Siap diberi bedak. Curr. Kaupipis lagi. Duh, jagoan ayah banyak sekali pipisnya malam ini. Apalagi pipismu sudah mulai bancar. Tidak sekadar crut. 

Dan ini ilmu dari mbahmu nak, kau dibiarkan telanjang. Setelah itu, kau diolesi minyak tawon. Kau diudani nak. Ditunggu respon darimu beberapa saat. Mandeg. 

Hal-hal seperti ini yang ketika ayah lihat di buku panduan tidak ada. Juga, dokter tidak memberi saran apapun tentang persoalan semacam ini. Bagi ahli medis, itu hal wajar. Namun bagi orang-orang yang kerap menggendongmu, ini semacam ancaman. Serangan pipis yang bisa sewaktu-waktu digencarkan.

Ya, pipismu kini benar-benar mampu membuat semuanya basah. Dan ini semacam kode, agar yang menggendongmu berhati-hati. Akan tetapi, itu hal yang asik. Barang siapa nanti yang dipipisi maka akan mendapatkan sorakan. Ya, itu tentu momen yang asik nak. Jika kaubesar nanti, pasti kau akan paham keasikan yang sekarang ayah rasakan. Cepat besar ya nak.

Dilarang Mencium

Kala ayah mulai terindikasi flu dan batuk. Ayah mulai jaga jarak mulut ayah denganmu. Tiap ayah batuk, selalu berupaya memalingkan muka.

Hujan bulan Juni, mengingatkan ayah pada sajaknya Sapardi Nak. Iya, beberapa hari sejak kaulahir, beberapa kali turun hujan. Hujan di bulan Juni. 

Tentu hadirnya hujan ini membawa sisi positif dan negatif. Negatifnya bila kala hujan turun kondisi tubuh kurang fit, maka bisa jatuh sakit. Gelaja yang sering muncul di kondisi seperti ini yaitu demam, batuk, dan flu.

Kala hujan itu, nampaknya ada yang sedang tidak fit di rumah nak. Kali pertama yang terserang batuk dan flu adalah Om Bena. Om Bena flu dan batuk malahan sebelum kaulahir nak. Makanya, Om selalu pakai masker. Memang begitulah nak anjuran dokter ketika ayah kemarin ngantar ibu kontrol. 

Ibumu menceritakan kalau di rumah ada yang terserang batuk dan flu. Dan ibumu bertanya, sikap bagaimana yang harus diambil. Kata dokter, sesiapa yang flu dan batuk tidak diperbolehkan menciummu nak. Terus kalau dekat atau ingin menggendong? Boleh, tapi harus menggunakan masker. 

Setelah Om Bena, mbah kung juga terindikasi flu dan batuk. Dan sejak kemarin, ayah juga mulai terindikasi. Dan biar batuk ayah tidak lama-lama hinggap dalam tubuh, ayah memanggil Pak De Yusuf. Pak De Yusuf ini pemijat langganan ayah dan mbah kung. Nanti kalau kau besar, boleh ikut pijat. Dijamin yahut nak, pijatannya. 

Rasanya, badan ayah enteng nak setelah dipijat. Rasa panas GPU masih betah di tubuh ayah. Ya, semoga seiring panasnya GPU hilang, penyakit flu dan batuk dalam tubuh ayah juga turut. Ayah sudah nggak kuat bila menahan diri tidak menciummu nak. 

Sisi positifnya, tentu hujan dinanti para petani. Mbah kakung pasti senang hujan turun. Pas ayah sambang kemarin, katanya seperempat bagian, padinya mati. Tentu dengan hujan di bulan Juni, bisa mengurangi angka kematian padi di sawah mbah kakung. Nanti kalau kau sudah selapan. Ayah ajak ke rumah mbah kakung dan mbah putri. Mbah pasti kangen juga dengan cucunya yang ganteng ini.

Ya nak, tidak hanya mbah kakung dan mbah putri saja yang kangen. Bahkan ayahmu ini merupakan sosok yang paling takkuat menahan rindu. Rindu padamu. Tapi ayah paling pandai menyimpan rindu, ayah selalu melepasnya tatkala ibu, Om Bena, pak de, mbah kung, atau mbah ti sudah selesai mengobati rindu padamu. 
Begitulah nak, cara ayah merawat rindu padamu. Juga kadang dengan menulis catatan seperti ini, cara ayah mengobati rindu padamu. Doakan ayah lekas sembuh. Biar ayah kembali memiliki momen puitis melepas rindu padamu nak. Dan pesan ayah, jangan nakal.