Ramadan: Semua Boleh Naik

Ramadan 1438 H/2017 M yang ke-9 ini telah membawa saya pada sebuah hasil kontemplasi. Kontemplasi yang entah bagaimana prosesnya. Jika dikatakan di pagi ini maka jalan kontemplasinya begitu cepat. Akan tetapi, jika dilihat dari runutan prosesnya, tentunya banyak kejadian yang masuk dan terkumpul hingga mencapai titik kulminasi di pagi ini. Ya, begitulah akhirnya terlontar secara tiba-tiba seperti kera sakti yang lahir dari batu, kontempatif itu menyeruat: Ramadan itu bus umum.

Bus umum? Begitulah kontemplatif saya dari berbagai kejadian yang mampu saya rekam. Lihat, dengar, pegang, cium, bau, hingga saya alami sendiri. Ramadan tidak menentukan penumpang. Semua boleh naik, jika merasa satu tujuan. Tidak peduli wanita, laki, kuli, supir, guru, dosen, penyair, pelukis, seniman, budayawan, wartawan, mlijo, petani, peternak, pokoknya semua ragam yang ada di dunia ini selama merasa satu tujuan boleh naik. 

Namanya bus umum, jauh atau dekat itu bergantung penumpangnya punya tujuan ke mana. Bus pun tidak bertanya, kamu puasa atau tidak? Pokoknya merasa satu tujuan (Islam), silakan naik. Tentunya jarak itu yang menentukan penumpangnya sendiri. Meski pagi sahur, siang mokel, dan sore buka bersama, bus tidak mempermasalahkan. 

Ada juga, tidak puasa tapi ritual lebaran dinikmati seolah merasakan perjuangan puasa. Ramadan atau bus tidak peduli akan hal itu. Ya, sekali lagi bus cuek saja. Satu tujuan silakan masuk. 

Pencapaian kontemplatif itu, membuat saya memecahkan ke persoalan lebih luas. Persoalan yang mungkin beberapa bulan ini terjadi pada diri saya. Tentunya, jika saya bisa seperti Ramadan dengan menjadi Bus, tidak akan ada sesuatu beban yang serius. Beban manusia itu diciptakan sendiri. 

Ya, beban itu diciptakan sendiri. Dulu, saya tidak punya beban ketika ditunjuk sebagai ketua karang taruna dusun. Tidak punya beban ketika ditunjuk menjadi koordinator kebersihan desa. Tidak punya beban menjadi dosen dengan kondisi mahasiswa yang spiritnya kembang kempis dalam belajar. Tidak punya beban menyelenggarakan kegiatan kesenian. Tidak punya beban mencintai seorang perempuan dengan kasih yang tulus dan kesetian yang tak tergoyangkan. Hampir semuanya tidak ada beban sedikit pun. 

Namun, ketika kaki sudah dilangkahkan dan hati sudah ditata. Maka muncullah pernak-perniknya. Pernik kecil, karena terlalu kecil kadang diabaikan, sampai akhirnya membesar dan menyilaukan. Ketika sudah silau, maka semua pada memperhatikan. Tentunya, hal yang indah itu memunculkan dua peminat: kagum dan membenci. Orang yang kagum, maka akan dipuja dan memberi dukungan.  Orang yang membenci, maka akan mencela dan cara menjatuhkan. 

Lah, jika hal itu dihadapi dengan ruwetnya pikiran maka akan dianggap beban. Padahal hal itu juga munculnya dari keteledoran atau abainya tentang hal kecil. Saya pun akhirnya terkepung dengan segala aktivitas tersebut. Semua seperti saling menusuk dan tidak mendukung. Satu aktivitas menggerogoti aktivitas dan perhatian yang lainnya. Semua bermuara pada satu titik, pecahlah kepala. 

Hampir diri ini putus asa. Sampai akhirnya di Ramadan ke-9 ini membuat saya menemukan bus. Ramadan itu mirip bus. Tentunya, saya harus bisa menjadi bus. Terus berjalan dengan tujuan bermacam-macam. Permasalahan dengan tujuan ini, jika memang itu perlu diperhatikan dan untuk perbaikan diri ya diterapkan. Sisanya, cuek saja, karena itu kecemburuan yang membuat jatuh. 

Ya, menjadi bus atau tidak memperhatikan yang menjatuhkan dan terus berjalan hingga tujuan harus dilakukan. Selamat menaiki bus. Selamat menjalankan Ramadan. Selamat beraktivitas. Tentunya, senyum itu adalah ibadah. Bus saya pun harus penuh senyuman. Sampai jumpa di tempat tujuan. Tabik.

Iklan