9 Cara Menjaga Cinta 

Cinta itu Dipraktekin
Sampul Depan: Cinta itu Dipraktekin

Identifikasi Buku

Judul: CINTA ITU “DIPRAKTEKIN”

Penulis: Tim Wesfix

Tahun: 2014

Kota: Jakarta

Penerbit: Grasindo

Cinta adalah satu tema yang tidak akan habis ditelan masa. Cinta dari waktu ke waktu selalu menjadi perbincangan. Tidak akan basi sebuah tulisan tentang cinta. Itulah salah satu alasan Tim Wesfix menulis buku tersebut. 
Tentunya tidak hanya Tim Wesfix saja, banyak tim-tim lain yang juga menuliskannya. Perseorangan pun juga ada. Dan buku-buku tentang cinta akan terus diproduksi-cetak.

Seputar Penulis

Seperti yang telah disinggung di awal, buku ini ditulis oleh Tim Wesfix. Siapakah yang dimaksud? Tim Wesfix adalah sekelompok orang yang telah menekuni bidang penulisan. Mereka telah memproklamirkan diri untuk membagikan ilmu. Jalan yang mereka pilih yaitu dengan menulis buku. 

Tim Wesfix dalam mengemas buku mereka selalu dengan sederhana, sehingga enak dibaca. Tidak hanya itu, mereka pun secara ideologi sudah menentukan arah. Pilihan mereka adalah seputar humaniora dan kreativitas. Mereka pun tidak menutup diri, bagi yang mau memberi saran atau konsultasi bisa menghubungi via wesfixity@gmail.com. 

Cinta Versi Tim Wesfix

Buku Cinta itu “Dipraktekin”  yang ditulis oleh Tim Wesfix ini dikemas dalam bentuk nonfiksi. Namun jangan khawatir, membaca buku ini tidak perlu mengeryitkan dahi. Sebab renyah, seperti Kacang Garuda. 

Cinta oleh Tim Wesfix (selanjutnya disebut TW) ini disinggung menjadi sembilan bagian. Bagian-bagian itu di antaranya, Cinta Butuh Dimengerti, Mencintai Wanita Anda, Mencintai Pria Anda, Cinta Ada dalam Hal yang Rutin, Berikan Sesuatu yang Istimewa, Hal-hal yang Bukan Cinta, Saat Anda Ingin Menikah, Bangun dari Keterpurukan, dan Mencintai itu Tanpa Syarat. Pola pengemasan tiap bagian, yang terdapat  beberapa subbagian, selain sederhana juga ditulis tidak lebih dari dua halaman. 

Tiap bagian tidak berkelanjutan (tapi tetap berkaitan), sehingga bisa dibaca dengan meloncat-loncat. Misal bagian akhir, kemudian meloncat ke awal. Atau dari tengah lalu meloncat ke awal. Sah. Kamu bisa memilih bagian yang kamu suka terlebih dahulu. 

Tiap bagian, ada kutipan, itu membuat kamu mudah mengingat poin yang dibicarakan. Bahkan, referensi yang disinggung-ceritakan oleh TW mulai dari seseorang yang bukan siapa-siapa hingga orang-orang hebat dunia seperti, Charles Darwin, Paracelsus, Jean Paul Sartre, John Powell, John Gray, Nikki Giovanni, Andre Breton, Paulo Coelho, Pedro Calderon De La Barca, Dr. Seus, Goerge Elliot, Elizaberth Gilbert, Dalai Lama, Leo Buscaglia, Oscar Wilde, James Patterson, Tom Robbins, Erich Fromm, dan Wirgill. Jadi, meskipun dikemas sederhana, banyak bertebaran pemikiran dan kisah orang-orang hebat seperti yang telah disebutkan.

Jatuh Cinta dan Cara Merawatnya

Apakah kamu sedang jatuh cinta? Atau kamu sekarang sedang mengalami krisis cinta dengan pasanganmu? Tentunya, buku ini setidaknya bisa menjadi alternatif untuk solusi permasalahanmu itu. 

Seseorang yang jatuh cinta memang selalu melakukan sesuatu di luar nalar. Apa yang dilakukan itu, bagi orang yang tidak sedang jatuh cinta adalah sesuatu yang sia-sia. Makanya melarang seseorang untuk berbuat sesuatu terhadap orang yang dicintai atau yang dicintainya, itu pasti gagal. Sebab larangan itu tidak akan pernah digubris. Jika kamu pernah jatuh cinta, kamu pasti mengetahui detailnya.

Setidaknya dengan buku yang ditulis TW ini, kamu bisa mengetahui kondisimu. Apakah benar itu cinta? Jika memang kamu mulai tidak tenang karena perpapasan dengan doi. Tidak mungkin, doi itu sahabat terbaikku. Tidak ada yang tidak mungkin bagi cinta. 

Cinta ada dalam hal yang rutin. Bagaimana tetesan air bisa membuat batu menjadi cekung? Sebab, secara rutin, tetesan tersebut dengan setia menempa batu tersebut (Hal. 41).

Jadi, seperti yang dikatakan TW, dalam halaman 41 tersebut, cinta muncul dari rutinitas. Kalau menurut orang Jawa, trisno jalaran soko kulino. Cinta itu muncul karena kebiasaan. Tentunya, cinta bisa saja muncul dari perempuan dan laki yang sudah bertahun-tahun bersahabat. 

Atau, kamu sudah lama berpacaran dengan doi. Karena tempo itu hubungan menjadi biasa-biasa saja, bahkan hambar. Tidak seromantis kali pertama jadian. Lah, jika cintamu dalam tahap itu, berarti kamu sedang krisis cinta. Menurut TW, cintamu itu butuh nutrisi. TW menyarankan jika kamu dalam posisi itu harus secara rutin membuat kebiasaan yang sederhana namun bisa menyapa hati doi (hal. 41). 

Tidak hanya itu, bahkan ketika kamu sudah benar-benar yakin dengan pasanganmu dan memutuskan menikah, TW pun mengulasnya. Memberi saran untuk melakukan hal-hal pranikah yang sudah disepakati bersama. Namun pesan TW jika memang kamu sudah memastikan menikah ada tiga hal. Pertama, pastikan tidak ada unsur paksaan dari masing-masing pihak. Kedua, pastikan tahu tujuan hidupmu dengan pasanganmu. Ketiga, memperjelas tujuan pernikahan. 


Simpulan

Tentunya dengan ulasan-ulasan TW, kamu bisa melakukan varian-varian agar cintamu tetap romantis dan harmonis hingga pernikahan. Bahkan setelah pernikahan, cintamu tetap awet hingga aki-aki dan nini-nini. 

Di akhir buku pun, TW memberi daftar sikap dan perlakukan untuk tetap menjaga cintamu. Atau dalam hal lain agar kamu langsung praktik. Praktik menjaga cintamu. 

Tentunya, kamu mau cintamu tetap romantis dan harmonis bukan? Maka, berilah nutrisi dan dipraktekin.

Iklan

Waspada Mantan

Masa depan tercipta karena kita sudah beranjak dari masa lalu. Namun masa lalu tetap tidak boleh dilupakan agar masa depan kita lebih baik. Namun tidak semua masa lalu sifatnya baik buat masa depan. Satu, dua, ada saja efek dari masa lalu yang bisa membuat goresan di masa depan. 

Kejadian itu terjadi dalam diri saya, kemarin hal itu hampir saja menggores masa depan. Masa depan yang ingin saya bina bersama doi. Pelaminan. Ah, sungguh hingga saya menuliskan ini kondisi masih belum membaik. Entahlah, saya bingung harus memperbaiki keadaan seperti apa. 

Doi masih tetap bersikap dingin. Padahal persyaratan menuju perkawinan kita harus segera dipersiapkan. Pernak-pernik itu begitu banyak, yang kadang sempat membuat saya ndak sempat berleha-leha. Mulai dari undangan, souvenir, kwade, terop, sound system, baju akad, preweed, makanan, kendaraan, dan tentunya banyak hal yang terus perlu dicatat juga dipersiapkan.

Namun gara-gara mantan, doi menjadi dingin. Saya ingin mengajak mempersiapkan itu semua, ia masih saja tetap dingin. Sampai akhirnya, saya harus menuliskan ini. Tentunya dengan maksud agar tidak ada yang merasakan hal seperti ini menjelang pernikahan. Pernikahan yang hanya tinggal menghitung dengan jari. 

Semoga saja semua akan menjadi lebih baik. Entah rasanya airmata ini ingin tumpah. Melihat ia terus marah, gara-gara keluputan diri ini membahas mantan dan masih menengok keadaan mantan, walau hanya sekadar bertanya kabar. Sungguh, tidak ada niat buruk pada doi. Hati ini sudah memilih. Memilih doi sebagai teman mengarungi hidup. Menjadi pasangan yang siap menerjang sedih dan bahagia bersama.

Ah, aku begitu mencintaimu sayang. Kumohon redakanlah amarahmu. Mari kita menyiapkan pernikahan kita yang semakin dekat. Maafkan daku. 

Tentu ini adalah pelajaran yang berharga. Semoga ke depan diri ini mampu memperbaiki tindakan-tindakan bodoh seperti ini. Semoga kejadian ini, menjadikan diri ini semakin mawas diri. Ya, semoga.

Malam Minggu

Hai kamu? Malam Minggu ke mana? Di rumah saja? Kok tidak apel. Ups, jomblo kok ngapel.

Okelah, lepas dari jomblo atau sudah pasangan. Malam Minggu tentu harus dinikmati dengan senang hati. Kalau aku tidak ke mana-mana. Di rumah saja. Sebenarnya ada rencana apel, tapi Perempuan Cerita sedang sibuk membantu ayahnya jualan. Kebetulan, malam ini seorang teman berkunjung ke rumah. Jadi, makin terasa nikmat punya teman diskusi.

Lanjutkan membaca “Malam Minggu”