Laki-Laki Menangis Apakah Salah?

​Bagaimana menurutmu bila melihat laki-laki yang menangis? Apakah ia melankoli atau cengeng? Saya termasuk laki-laki yang mudah menitikkan airmata, terutama dengan kejadian-kejadian yang menyentuh hati. 

Mungkin banyak lelaki yang menutupi hal ini, namun kali ini saya akan bercerita perihal airmata yang tumpah itu. 

1. Mendengarkan pembacaan atau membaca cerita yang haru, miris, dan menyayat. Dulu pernah terjadi saat masa kuliah. Kala itu dosen saya membacakan cerpen, begitu bagus, tidak ngotot dan juga tidak berteriak, tapi penuh rasa. Beliau menitikkan airmata, saya pun juga. Teman sekelas banyak juga yang menitikkan airmata dan ada satu teman perempuan sampai menangis menggeru-geru. Sedangkan kejadian membaca, kerap menitikkan airmata tanpa disengaja bila ceritanya menyentuh.

2. 

Melihat film. Saya kerap tidak kuat menahan airmata bila ceritanya begitu syahdu, sedih, atau penuh haru. Bahkan ketika menonton bersama teman laki, saya tak peduli. Saya biarkan airmata menetes, meski akhirnya saya disebut melankoli.

3.

Sakit hati. Kejadian ini kerap terjadi bila bertengkar dengan kekasih yang amat saya cintai. Terlebih, bila ia menyakiti, berbohong, atau hanya karena berbeda pikiran. Entah, airmata itu jatuh karena apa. Yang jelas, ketika saya jatuh hati, saya merasa menemukan hati saya dalam hati sang kekasih. Itulah, kenapa tidak pernah berbagi hati dengan perempuan lain, ketika hati saya sudah tertawan, setia, begitulah kiranya. Namun entah kenapa sampai sekarang, banyak perempuan yang datang silih berganti. Lantas siapakah gerangan kekasih hati yang kelak jadi jodoh saya? Entahlah, ini masih misteri.

Mungkin tiga kejadian itu yang sering membuat saya menitikkan airmata. Dan saya selalu bangga bisa menangis, walau tahunya akhir-akhir ini, sebab sebuah riset airmata adalah obat paling ampuh menjaga stabilitas mata. Jadi buat kamu, jangan takut menangis. Jika haru, sedih, atawa bahagia, jangan ragu menitikkan airmata.

Menjadi Penulis Penuh Waktu

​Menjadi seorang penulis adalah sebuah pilihan nekad. Apalagi menjadi penulis penuh waktu, tentu tidak hanya kekuatan lahir yang dibutuhkan, tetapi kekuatan batin. 

Dulu, untuk menerbitkan buku harus antre dan seleksi panjang. Kadang, naskah ditolak. Bila penerbit mengatakan naskah lolos, kebahagian seolah tumpah di mana-mana. Setelah itu, penerbit membuat ikatan kontrak tentang segala kesepakatan. Salah satunya yaitu royalti (hasil keringat) penulis sebesar 10 persen dan ada juga penerbit baru yang berani memberi hingga 20 persen. Jika oleh penerbit, buku itu dijual 50 ribu, maka penulis mendapatkan 5 ribu. 

Saat ini sistem penerbitan makin mudah, ada sistem indie (self publishing) yang tidak harus antre. Namun segala ongkos produksi dibebankan pada penulis. Bila penulis ingin menerbitkan melalui jalur ini, tentu harus menabung atau bahkan puasa berhari-hari demi mimpi bukunya terbit. 

Karya adalah kebahagian bagi penulis. Ya, kebahagiaan yang sangat, walau kebahagiaan itu sulit ditukar dengan materi. Bila buku terbit, ada rekan, kenalan, saudara setelah buku itu terbit, berbondong-bondong memberi selamat. Tidak jarang pula, meminta buku gratis, terkadang plus tandatangannya.

 Namun, hal itu tidak membuat penulis gusar. Ia kerap kali menghormati semua rekan, kenalan, dan saudaranya itu dengan begitu takdim. Senyum pun rekah di bibirnya, sembari tandatangan ia berpesan (dan pesannya selalu saja beda di tiap buku). Salah satunya kadang berisi “semoga bisa memberi manfaat”, atau “semoga menginspirasi”, “semoga bisa menjadi teman paling setia”, dan sederet pesan yang selalu berbeda.

 Diapresiasi seperti itu, penulis sudah sangat berbahagia. Tentu, jenis kebahagiaan itu tidak mungkin dirasakan oleh oranglain. Itulah salah satu ketangguhan seorang penulis, ia telah banyak belajar dari hidup. Belajar dari kesedihan, kesusahan, luka, dan airmata. Ya, itulah yang membuat seorang penulis menjadi seorang yang tabah dan bisa memaknai kebahagiaan sekecil apapun.

Sungguh, itulah kenapa saya bilang memilih menjadi penulis itu butuh kenekadan lahir dan batin. Bila kamu, tidak berani nekad, harap memikir ulang jika ingin menjadi penulis.

Suara Hati Penestapa

Rasanya pilihan judul tulisan ini seperti begitu menyedihkan. Lantas apakah tulisan ini memang berisi sayatan kesedihan? Ah, entahlah. 

Jelasnya, tulisan ini mewakili suara orang-orang yang (sedih) ditanya “kapan nikah”? Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sulit karena memang mencari jawabannya tidak semudah menjawab pertanyaan: sudah sarapan? Sudah mandi? Semalam tidur pukul berapa? Warna favorirmu apa? Yah, pertanyaan soal menikah memang sulit dijawab. Tentunya ketika ditanya, rasanya ada gelombang campur-campur dalam dada. 

Hal itulah yang akhirnya membuat saya memilih judul tersebut. Lah, tulisan ini merupakan buah dari ketabahan menampung pertanyaan yang menyesakkan itu secara bertubi-tubi. Innalloha maashobirin. Semua akan indah pada waktunya. 

Jika kamu belum menikah, tentu betapa menyedihkan jika mendapatkan pertanyaan itu terlontar kepadamu bukan? Yah, setidaknya itulah yang dulu kerap kali saya rasakan. Sampai pada akhirnya saya mampu menemukan jawabannya dengan mengucap penuh kesungguhan dalam hati: saya niat lahir dan batin tahun depan menikah. Yah, itulah jawaban dari puluhan hingga ratusan pertanyaan yang tidak berperasaan itu. 

Sampai pada waktunya, turunlah ijabah dari doa saya itu. Tepat pada hari Minggu, 21 Mei 2017 lalu, akhirnya saya menemukan terminal perhentian. Berhentinya hati ini setelah lama berkelana dan mengarungi samudra kesunyian. Juga menampung kenestapaan dari pertanyaan-pertanyaan menyakitkan yang tidak menemukan jeda. 

Jeritan hati penestapa akhirnya terkuak. Pem-bully-an akhirnya berubah menjadi ucapan selamat. Orang-orang yang selama ini menghujani kenestapaan berganti menabur ucapan selamat dan doa-doa. Ah, ini ketulusan atau sekadar basa-basi? Entahlah. Setidaknya, jawaban saya sudah terlontar. Mereka pun akhirnya menutup mulut rapat-rapat. Yah, doa saya, semoga kamu yang kerap mendapatkan kesesakan dada karena pertanyaan serupa, bisa secepatnya menemukan jawaban. Saya berada bersama kamu. 

Tentunya, momen indah itu pula yang ingin saya bagi di sini. Sebagai pengganti jeritan para nestapa. Biasanya saya kerap mengabadikan momen seperti ini dan baru kali ini saya mengalaminya. Semoga ini yang pertama dan terakhir. Ada juga yang ganjal dari momen indah saya itu yaitu pemasangan cincin. Biasanya calon lelaki yang memasangkan ke jari calon perempuan. Lah, saat acara saya, semua beralih dan berubah. Cincin itu dipasangkan oleh Emak saya. 

Saya kala itu, hanya bisa melihat dengan rapalan doa-doa (semoga mustajabah). Cincin saya keluarkan dari kotak, lalu diambil Emak dan dipasangkan ke jari manis perempuan yang siap menampung jiwa saya yang sudah lama terkatung-katung. Beda. Apalagi saya lihat, jemari bidadari saya itu terus dipegang hingga iringan salawat selesai dilantunkan. Bibir Emak tak henti merapal doa. Doa yang entah apa. Semoga saja doa itu membuat kita jadi pasangan Samawa. Amin.

Ya, momen itu tentunya sesuatu. Beda. Meskipun berkali-kali saya memotret pertunangan, kala itu saya masih tetap berkeringat dingin dan hati berdebar-debar. Dahsyat. Tentunya indah. Seindah ketika aku melihat tatapan mata perempuan penyita hati saya itu. Duh, syahdu nian. 

Berikut ini momen itu akan saya lampirkan sebagai penutup kenestapaan. Yah, sekaligus sebagai doa tentunya. Doa agar nestapa berganti dengan bahagia dan rekah senyum dalam jalinan keluarga yang akan kita bina. Semoga.

(Proses masih terkendala, foto menyusul)

Ramadan: Semua Boleh Naik

Ramadan 1438 H/2017 M yang ke-9 ini telah membawa saya pada sebuah hasil kontemplasi. Kontemplasi yang entah bagaimana prosesnya. Jika dikatakan di pagi ini maka jalan kontemplasinya begitu cepat. Akan tetapi, jika dilihat dari runutan prosesnya, tentunya banyak kejadian yang masuk dan terkumpul hingga mencapai titik kulminasi di pagi ini. Ya, begitulah akhirnya terlontar secara tiba-tiba seperti kera sakti yang lahir dari batu, kontempatif itu menyeruat: Ramadan itu bus umum.

Bus umum? Begitulah kontemplatif saya dari berbagai kejadian yang mampu saya rekam. Lihat, dengar, pegang, cium, bau, hingga saya alami sendiri. Ramadan tidak menentukan penumpang. Semua boleh naik, jika merasa satu tujuan. Tidak peduli wanita, laki, kuli, supir, guru, dosen, penyair, pelukis, seniman, budayawan, wartawan, mlijo, petani, peternak, pokoknya semua ragam yang ada di dunia ini selama merasa satu tujuan boleh naik. 

Namanya bus umum, jauh atau dekat itu bergantung penumpangnya punya tujuan ke mana. Bus pun tidak bertanya, kamu puasa atau tidak? Pokoknya merasa satu tujuan (Islam), silakan naik. Tentunya jarak itu yang menentukan penumpangnya sendiri. Meski pagi sahur, siang mokel, dan sore buka bersama, bus tidak mempermasalahkan. 

Ada juga, tidak puasa tapi ritual lebaran dinikmati seolah merasakan perjuangan puasa. Ramadan atau bus tidak peduli akan hal itu. Ya, sekali lagi bus cuek saja. Satu tujuan silakan masuk. 

Pencapaian kontemplatif itu, membuat saya memecahkan ke persoalan lebih luas. Persoalan yang mungkin beberapa bulan ini terjadi pada diri saya. Tentunya, jika saya bisa seperti Ramadan dengan menjadi Bus, tidak akan ada sesuatu beban yang serius. Beban manusia itu diciptakan sendiri. 

Ya, beban itu diciptakan sendiri. Dulu, saya tidak punya beban ketika ditunjuk sebagai ketua karang taruna dusun. Tidak punya beban ketika ditunjuk menjadi koordinator kebersihan desa. Tidak punya beban menjadi dosen dengan kondisi mahasiswa yang spiritnya kembang kempis dalam belajar. Tidak punya beban menyelenggarakan kegiatan kesenian. Tidak punya beban mencintai seorang perempuan dengan kasih yang tulus dan kesetian yang tak tergoyangkan. Hampir semuanya tidak ada beban sedikit pun. 

Namun, ketika kaki sudah dilangkahkan dan hati sudah ditata. Maka muncullah pernak-perniknya. Pernik kecil, karena terlalu kecil kadang diabaikan, sampai akhirnya membesar dan menyilaukan. Ketika sudah silau, maka semua pada memperhatikan. Tentunya, hal yang indah itu memunculkan dua peminat: kagum dan membenci. Orang yang kagum, maka akan dipuja dan memberi dukungan.  Orang yang membenci, maka akan mencela dan cara menjatuhkan. 

Lah, jika hal itu dihadapi dengan ruwetnya pikiran maka akan dianggap beban. Padahal hal itu juga munculnya dari keteledoran atau abainya tentang hal kecil. Saya pun akhirnya terkepung dengan segala aktivitas tersebut. Semua seperti saling menusuk dan tidak mendukung. Satu aktivitas menggerogoti aktivitas dan perhatian yang lainnya. Semua bermuara pada satu titik, pecahlah kepala. 

Hampir diri ini putus asa. Sampai akhirnya di Ramadan ke-9 ini membuat saya menemukan bus. Ramadan itu mirip bus. Tentunya, saya harus bisa menjadi bus. Terus berjalan dengan tujuan bermacam-macam. Permasalahan dengan tujuan ini, jika memang itu perlu diperhatikan dan untuk perbaikan diri ya diterapkan. Sisanya, cuek saja, karena itu kecemburuan yang membuat jatuh. 

Ya, menjadi bus atau tidak memperhatikan yang menjatuhkan dan terus berjalan hingga tujuan harus dilakukan. Selamat menaiki bus. Selamat menjalankan Ramadan. Selamat beraktivitas. Tentunya, senyum itu adalah ibadah. Bus saya pun harus penuh senyuman. Sampai jumpa di tempat tujuan. Tabik.

Peluncuran Majalah Bahasa Jawa “Mapah Mangsa”

​Hujan sejak sore mengguyur, tetapi tidak memadamkan niat para pemuda dan pemudi yang tergabung dalam Pergerakan Kebudayaan Prosa. Mereka bertemu dan berkumpul di sebuah cafe untuk melakukan peluncuran majalah mereka. 

Saya benar-benar kaget. Acara sangat ramai. Acara pun beragam, mulai dari stand up comedy, musikalisasi puisi, hingga orasi kebudayaan. Edan tenan. Juancok pol kok arekarek iki. Itulah yang saya sampaikan ketika membuka sedikit orasi dalam acara itu. 

Tentu, mereka perlu didukung. Generasi seperti merekalah yang mampu menciptakan gerakan nyata. Namun sayang, saya tidak bisa mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Setelah memberi orasi budaya, saya pun pamit undur diri. 

Tentunya, sebagai rekam jejak. Kamu bisa mengintipnya melalui foto-foto berikut:

Merekalah yang menyambut dan menghangatkan saya tatkala datang dengan kondisi kedinginan karena hujan mengguyur dengan derasnya. Dan akhirnya saya pun menambah kehangat dengan wedang uwuh juga akhirnya.
Salah satu rangkaian acara, musikalisasi puisi.
Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Pelaksana menyampaikan visi dan misi Majalah Mapah Mangsa. Juga tentang muasal yang menjadi pematik munculnya majalah Mapah Mangsa.
Para cowok-cowok yang rela tidak apel ke rumah pacarnya hanya demi menyaksikan dan menghadiri acara ini.
Selain cowok-cowok keren, hadir pula cewek-cewek cantik yang rela bedaknya luntur karena menerjang hujan demi acara ini.
Kalau ini adalah poster promosi yang mereka gunakan untuk promosi acara. Dan hasilnya, meskipun hujan deras, sudah mampu mendatangkan kurang lebih 25 orang.
Kebetulan nak edisi perdana iki aku mlebu nak rubrik SOSOK WONG SANGAR. Iki mung kebetulan loh rek. Serius, profil saya muncul di majalah ini hanya sebuah kebetulan semata.

Jika Soekarno berkata “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugonjangkan dunia.” maka dengan gerakan ini pasti akan mampu menggoncang dunia literasi. Mereka lebih dari sepuluh. Tentu akan mampu menciptakan dan meledakkan sesuatu. Semoga.

Info Perihal Majalah:

Majalah ini merupakan majalah triwulan. Edisi pertama Januari s/d Maret 2017. 

Harga Pulau Jawa Rp18.000

Harga Luar Jawa Rp25.000

ISSN: 2548-9658

.

Susunan Redaksi:

Pelindung/Penasihat: Suyitno Ethek, S.Pd., M.Pd.

Pimpinan Redaksi: Faisal Achmad

Pimpinan Pelaksana: Fajar Laksana

Sekretaris Redaksi; Sri Suryani

Editor: Zandy Titis

Desain/Layout: Fuad Nuriyanto&Gejot Master

Fotografi: Andreas Dwi P. &Hudan Fajar R

Manajer Iklan: Hanip Rizki R&Ryandhica Angga

Humas: Harjunot Purwanto&Megayati

Seni Budaya: Mahardika&Ridwan Rustamaji

Kepemudaan: Hikam Alfiansyah, Atma Risanti, Yunia Sanny&Esveraldo

.

Majalah ini diterbitkan: 

PERGERAKAN KEBUDAYAAN PROSA

Alamat: Jalan S. Parman 18, Modopuro RT01 RW06, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.

Email: mapahmangsa@gmail.com

mapahmangsa.wordpress.com

HP. +62813-9103-6155

Gerakan Kebersihan Lingkungan

​Laporan rapat bersama Perangkat Desa

Kamis, 23 Pebruari 2017

Notulis: Akhmad Fatoni (Ketua Umum Kartar Karya Remaja Dusun Sumbertani)
Sore hari, sekitar pukul 3 sore, saya mendapat pesan dari Kepala Desa. Pesan itu berisi undangan rapat yang akan membahas kebersihan lingkungan. Saya diminta mengajak yang mengeloh sampah karang taruna Karya Remaja. Maka dari itu, saya mengajak Saudara Alifir dan Krisdian Efendi. 

Kira-kira setengah 8 malam, saya bersama dua orang relawan sampah Karya Remaja menuju rumah kepala desa. Rumah masih sepi, hanya ada Saudara Buasim. Entah ia menjabat apa di pemerintahan desa, saya kurang paham. Yang jelas, ia adalah orang kelahiran Dusun Sumbertani dan menikah dengan orang Dusun Banyurip. Tentunya, ia orang yang dermawan pula. Ia kerap membantu tenaga, pikiran, dan biaya untuk pergerakan di tanah kelahirannya ini. Baik kegiatan karang taruna Karya Remaja ataupun RBAF. 

Tidak lama setelah itu, datang ketua karang taruna Dusun Banyurip bersama wakilnya. Baru kemudian disusul Ketua BPD. Acara digelar lesehan. Setelah karpet digelar, Ketua Karang Taruna Desa datang, Mas Hari Bondan. Acarapun di buka, sambutan sekilas. Lalu dilanjut dengan diskusi terbuka. Topiknya masalah kebersihan lingkungan. 

Setelah acara dimulai, ketua LPM hadir dan turut dalam pembahasan ini. Kepala Desa Mojorejo ingin di daerah yang ia pimpin ini kebersihan lingkungannya terjaga. Beliau tidak ingin lagi melihat sampah di parit, sungai, ataupun di jalan-jalan. Beliau sudah jengah, hingga akhirnya menetapkan perdes (peraturan desa) mengenai kebersihan lingkungan. 

Beliau optimis, karena karang taruna Karya Remaja Dusun Sumbertani, yang merupakan salah satu dusun dari delapan dusun yang dipimpinnya, mampu melakukan gerakan kebersihan lingkungan. 

Diskusi panjang lebar pun terjadi. Tidak ada saling gontok, adanya banyolan dari ketua BPD, Kak Irul, yang meski tampangnya kereng ternyata humoris. Gelak tawa pun pecah. Suasana tegang, mencair kembali. Rapat dengan model diskusi terbuka berjalan lancar. Berikut rumusan rapat tersebut:

1. Pemerintah Desa Mojorejo mengeluarkan Perdes kebersihan lingkungan. Isinya, seluruh warga Desa Mojorejo wajib menjaga kebersihan lingkungan. Bila ada yang melanggar akan dikenakan denda sebesar Rp100.000. Dan bila ada yang bisa membuktikan orang buang sampah sembarangan, terutama di selokan atau sungai, akan diberi insentif Rp50.000 (bukti foto). Bila tidak mau membayar, setiap keperluan adminitrasi di desa akan dikenakan biaya.

2. Desa memberi fasilitas TPA, Mobil pengangkut sampah, seragam petugas sampah, dan tempat sampah di beberapa titik (drum bekas).

3. Warga wajib membayar iuran kebersihan Rp1.000 per minggu. Uang tersebut digunakan operasional kebersihan.

4. Penerapan lingkungan bersih akan diberlakukan per 1 April 2017. Sejak putusan ini ditetapkan, seluruh Kepala Dusun wajib menyosialisasikan ke seluruh warganya.

5. Banner sosialisasi akan difasilitasi pemerintah desa. Bulan Maret 2017, target sosialisasi rampung.

6. Masing-masing dusun diberi wewenang menentukan petugas pemungut sampah. Jika tidak ada atau tidak sanggup, maka dipasrahkan pemerintah desa. Kemudian pemerintah desa akan menunjuk petugas, yang akan membantu dusun tersebut.
Tentunya hal itu merupakan gerakan positif. Kita, karang Taruna Karya Remaja akan mendukung penuh program tersebut. Dan sebuah kebanggaan ketika gerakan cinta lingkungan yang digerakkan kartar Karya Remaja Sumbertani dijadikan percontohan pemerintahan desa. Sungguh, ini sangat mengharukan.

Karya Remaja Terus Bergerak

Program yang saat ini digerakan yaitu pengelolaan sampah kering. Sungguh terimakasih kepada seluruh warga yang telah membantu program ini. Tanpa bantuan warga niscaya ini tidak berjalan. Sisanya, tinggal menunggu hati anggota karang taruna tergerak turut membantu. 

Siang ini, sampah-sampah ini dijemur di pelataran rumah. Biar tidak bau. Biasanya saya dibantu Baztian Petros dan Aris Anggun Sholiha. Namun sejak tiga hari yang lalu, saya meminta ia mewakili Karya Remaja membersihkan rumput di lapangan. Pembangunan pasar akan segera direalisasikan. 

Tentunya ini adalah gerakan membangun Dusun Sumbertani dan Desa Mojorejo pada umumnya. Gerakan seperti ini tidak ada uangnya, jadi saya memaklumi jika teman-teman belum tergerak membantu. Namun semenjak tahun lalu, ketika saya ditunjuk dan diberi amanah. Maka inilah yang menjadi tanggung jawab saya. Dan terimakasih kepada seluruh pengurus, sudah berkenan membantu. 
Dan semalam, saat gerimis merindu gerakan tahlilan, yang akhirnya berubah menjadi Istiqosah karena saran dari tokoh agama Dusun Sumbertani dengan alasan rutinan tahlilan sudah dilakukan warga, ben karang taruna Istiqosah wae. Ngunu. Dan oke. 

Kegiatan itu dilakukan rutin setiap hari Jumat, ba’da Isya. Lah, Jumat ngarep, bukan Jumat malam ini, Istiqosah bertempat nak langgar kulon. Ambek gowo kas 2 ribu gawe tuku puluran. Rembukan wingi, sepakat nggak diisi arisan. Mung cukup rutinan wae. Lah, nek ngisi 20 ewu piye? Yo ora opo-opo, toh iku gawe rejeki sampean dewe. 

Kabar gembira liyane, Aba Saipul siap nukokno alat terbang, be e pengen bentuk banjari, terbangan, kuntulon, opo qosidah. Lah, kabeh iku, nari sampean. Gelem nopo purun. Nek coro aku, gelem tok wong wis onok sing biayayai. 

Gerakan liyane, iku drum band. Iki kari kelompok 2 sing durung terbentuk. Kelompok sing anggota e arek karang taruna. Ndang meluo. Ora bayar. Bayar alat wis ditanggung ambek arek-arek sing tergabung nak kelompok 1.
Monggo, niat e ditoto maleh. Niki gerakan sae. Gerakan Karya Remaja sampun tersebar di seluruh dusun di Mojorejo. Sebab setiap pertemuan, Pak Lurah menceritakan gerakan Karya Remaja ini. Tidak hanya itu, sama Pak Lurah juga diceritakan di kecamatan. Alhamdulillah.

Saya bangga kepada pengurus dan anggota karang taruna Karya Remaja. Kalian keren. Tanpa kalian semua, nama Sumbertani tidak akan dibincangkan di sana-sini. Juga seluruh warga Dusun Sumbertani yang banyak membantu, juga para pamong. Sungguh, saya ucapkan terimakasih sanget. I LOVE YOU FULL.

Salah Sijine Werno Nak Dunyo

Abang, biru, lampune disko. Nek iki ora abang, yo ora biru, tapi yen pancen ngunu. Ora mung guru sing koyok ngunu, kabeh pegawe sing melu lembaga e negoro yo duweni nasib sing podo. Iki kok isok koyok ngunu? Yo embuh, iki sopo sing kudu isok njelasno. Sing jelas onok sing wes nulisno, salah sijine Listiyono Santoso. Nulis e yo nang koran sing podo. Cuman tulisan e iko nyoal dosen mroyek iku ora opo-opo. Yen durung moco, isok moco nak blog pribadine. 
Kiro-kiro nek nak negoro iki tetep onok wong sing pingin ngajar, perkoro koyok ngene ora dadi kekawatiran. Ilmu tetep ejek isok disalurno. Yen ora ono, tur kabeh kalah ambek weteng. Iku sing bakal soro. Tenan soro. 
Coba ayo dipikir. Kabeh sarjana milih urip sing ora rekoso, khususe sing lulusan pendidikan. Kabeh mikir masa depan, mikir bayaran gede. Digawe sangu sesuk emben yen pengen rabi. Nek ditarik maneh, pengen urip sing layak. Isok nyukupi kebutuhan urip. Terus nek iki kedadean, buku isok ditinggalno. Kabeh ora doyan moco. Wes ora dianggep maneh dawuh “Iqro”. Senajan, “Iqro” iku mung ora teks tok, tapi nek teks ora kewoco piye ati isok moco sing nonteks. Yo mugo-mugo wae, ojok sampek kedadenan ngunu. 
Saiki, piye carane isok podo roto. Sing guru bayarane mung semunu. Yo ojok disemoni, nek mung ngekei ilmu ribet karo proyekan e nak njobo. Nek diribetno, yo iku keliru. Keliru, lapo kok ora dikei gaji podo ambek buruh pabrik opo pegawe kantoran. Wes talah, iki ancen salah sijine werno. Ojok dipermasalahno, mung ayo podo dipikir lan diresapi. Ben isok dadi wewanti lan pengeleng. Ojok podo nyalahno, nyalahno iku gampang, tapi nek diwalek, opo kuwi isok mbenerno sampek bayaran e podo? Jelas kowe modar nek dipasrahi ngunu. Lah, terus mosok yo meneng wae. Yo ogak. Ngene, ayo podo ngelakoni perubahan sing awak dewe mampu. Senajan cilik, iku luwih becik ketimbang dirimu mung nyalahno tok. Piye, sepakat? Nek wes sepakat, ayo ndang disruput kopine, udud e ndang disumet. Maknyus toh?

Berawal dari Suka

Dulu, sewaktu masih kecil cita-cita saya menjadi musisi. Terutama sebagai gitaris. Saya masih ingat betul kali pertama pengen beli gitar. Bagaimana saya harus merengek ke orangtua agar dibelikan alat musik. 

Namun, anehnya sampai saat ini saya tidak bisa memainkan alat musik itu. Sampai saat ini, saya sudah beli gitar sampai tiga kali. Gitar pertama, tidak diketahui rimbanya. Gitar kedua, ada di gudang rumah kakak. Dan yang ketiga, sampai sekarang masih bisa dipakai. Tentunya bukan saya yang memainkannya, tetapi teman-teman saya. 

Entahlah, ini sesuatu yang aneh. Sampai akhirnya saya sejak beberapa tahun lalu masuk ke dunia baru, berjualan alat musik. Mulai dari stik drum, gitar akustik, gitar elektrik, dan asesoris gitar lainnya. Dan beberapa waktu lalu, takdir mempertemukan saya dengan rekan bisnis baru, pengerajin drum band. Jadi, ketika saya pikir apa yang saya lakukan saat ini berawal dari suka. 

Tentunya, ini adalah koleksi barang-barang dagangan itu. Terkadang saya pakai sendiri, eh, kelompok yang saya kelolah maksudnya. Sebab saya tidak bisa memainkan alat musik. Dan lucunya, tiap kali saya jualan, para pembeli tidak percaya kalau saya tidak bisa bermain gitar. Hehehe…ya sudah, itu hak mereka tidak memercayainya. Toh, bagi saya barang terjual dan pelanggan puas,  itu sudah merupakan pelayanan yang harus saya berikan. 

 Sebagai wujud visual, berikut gambar-gambarnya:

Gitar Elektrik Body Ori
Gitar Elektrik body ori
Gitar akustik plus equaliser
Model equaliser gitar akustik
Gitar akustik tanpa equaliser
Gitar akustik cocok buat pemula
Gitar akustik bisa menyesuaikan kantong pelajar
Gitar akustik yang nyentrik
Variasi stik, mulai stik drum, balera, hingga drum band.
Balera
Alat musik drum band: orgen, senar drum, tom, bas drum.

Entahlah, kesukaan dengan musik membuat saya gila. Namun sayangnya, cita-cita saya menjadi musisi kandas, malah yang tidak diharapkan tergapai: pengusaha alat musik. Hidup itu absurd. Kadang sesuai yang dikejar, tidak kunjung tertangkap. Sedangkan yang tidak disangka-duga, malah mendekat. Namun, setidaknya sekarang sudah bisa memetik gitar, mengalunkan organ, dan menarikan stik di alat perkusi, meskipun belum mahir. Semua itu harus disyukuri. Bukan begitu?

Profesi Sebagai Penulis dan Kisah-kisah Mengharukan

Itulah rasanya yang selalu saya baca dan saya dengar, ketika saya mulai benar-benar ingin serius menulis. Begitu memprihatinkan memang, namun keprihatinan itu muncul bagi seseorang yang memilih berprofesi penuh waktu sebagai penulis.

Lanjutkan membaca Profesi Sebagai Penulis dan Kisah-kisah Mengharukan