Stagnasi Penyair

Rasanya lama tidak menulis sajak. Namun dalam hal ini, bukan dalam artian tidak pernah menulis sajak sama sekali. Kondisinya lebih ke arah tidak ada penyatuan dalam sajak. 

Sajak masih tetap saya tulis. Sekali-dua. Namun pikiran dan hati saya tidak diseret sajak secara utuh. Pikiran lebih ke arah analitis. Hal itu membuat saya lebih banyak menulis esai atau kajian-kajian. 

Tentunya, sebagai seseorang yang menasbihkan diri sebagai penyair ini adalah sebuah krisis. Akan tetapi, jika ada sesuatu yang menggunung (entah fenomena atau pusat pikiran) akan tertuanglah sajak. Jadi, sajak masih tetap tertulis. Seperti beberapa sajak yang saya tulis di blog ini. Sajak untuk pembaca anak-anak. 

Ya, memang beberapa sajak terakhir saya ingin tertuju pada anak-anak. Hal itu karena seringkali mendapati lomba baca ataupun deklamasi puisi kategori anak, puisi yang dipilih-bacakan puisi orang dewasa. Puisi yang secara diksi, sulit dipahami anak-anak. 

Lomba-lomba semacam itu ada yang melibatkan diri saya langsung (baca: menjuri). Ada yang tidak secara langsung. Hal itu membuat saya miris. Memang nyatanya, tidak banyak penyair yang menulis sajak khusus untuk anak-anak. Padahal tiap pekan, harian Kompas selalu menerbitkan rubrik tersebut. Memang jika dibandingkan puisi yang ditujukan buat pembaca dewasa tidak sebanding. Apalagi, puisi-puisi anak yang di Kompas atau media lain tidak disebar-giatkan seperti puisi untuk pembaca dewasa.

Hal itulah, kiranya yang mendorong naluri kepenyairan saya menulis puisi anak. Ternyata tidak mudah. Apalagi selama ini, saya terbiasa dengan diksi dewasa (baca: diksi yang sulit dipahami anak-anak). Saya yakin, banyak penyair mengalami hal yang sama. Konon, Putu Wijaya, berniat menulis untuk anak-anak pun selalu saja gagal. Sebab bukunya selalu saja dipajang di rak dewasa atau sastra serius, ketika di toko buku. 

Yah, satu-satunya nama sastrawan yang membekas di otak saya yaitu Hardjono WS. Ia menasbihkan dirinya untuk dunia anak-anak. Salah satu larik yang melekat di ingatan saya yaitu, anak-anak bermain, biarkan saja. Ya, itu. Semoga tidak keliru. Tentunya, saya berharap akan ada penyair menuliskan puisi untuk anak-anak. Tentunya harapan jika dipasrahkan kepada orang lain, sulit tercapai. Maka dari itu, saya berupaya menulisnya sendiri. Dan efeknya, sajak tidak banyak saya tulis. Saya selalu saja merasa gagal melihat sajak itu. Selalu bukan puisi anak.

Jika saya berharap pada penyair, tentu saya berharap kepada Hasan Aspahani. Ia seorang penyair yang tiada pernah lelah belajar. Tentunya, saya pun mendoakan keinginannya untuk meraih Nobel  Sastra. Tentunya karena kegigihannya itu. Saya pun berharap, Hasan suatu ketika menuliskan sajak untuk anak-anak. Jika penasaran atau belum tahu perihal sosoknya, bisa mengunjunginya di Mata Puisi atau di Intagramnya @skalamata. Tentunya, biar harapan saya itu tercapai, suatu ketika nanti Hasan Aspahani nyasar kemari dan membaca tulisan (pesan) ini. Semoga saja. 

Iklan

Sibuk atau Pura-pura Sibuk?

Pernahkah kamu merasakan hal itu? Jika pernah, saat ini saya sedang dilema akan hal itu. Kenapa bisa seperti itu? Silakan dinilai sendiri nanti ya, saya ceritakan dulu.

Saya dari dulu tipe seseorang yang selalu saja ada hal untuk dikerjakan. Saya selalu gagal untuk menjadi pengangguran. Hal itu karena ada saja yang dikerjakan. Pengangguran banyak acara.

Ketika menikah, saya tidak banyak melakukan sesuatu. Porsi kesibukan saya berkurang. Kenapa kok berkurang? Di kepala saya ada sesuatu yang hingga saat ini belum bisa terpecahkan. “Saiki wes rabi, yo kudu ngerti ojok dipadakno ambek ejek bujang.” 

Banyak sekali wejangan seperti itu yang saya dapatkan. Memang kalimatnya tidak sama persis, namun maksudnya sama. Hal itu coba saya telaah dengan baik, namun masih tetap saja gagal. Saya hanya bisa menemukan jawaban (seandainya bisa disebut jawaban), aktivitas saya berkurang.

Lanjutkan membaca “Sibuk atau Pura-pura Sibuk?”

Kosmologi Sastra Indonesia

Tulisan ini diharapkan bisa menjadi pemicu untuk membincangkan perihal kesusastraan Indonesia. Mungkin bila secara teknis, membincangkan sastra dari berbagai sudut pandang. Jika difokuskan, setidaknya mengarah pada makrokosmos dan mikrokosmos. Atau jika disederhanakan akan membicarakan karya sastra dan hal-hal yang berpengaruh setelah karya sastra ditulis. Perbincangan yang diharapkan akan terpicu dari tulisan ini yaitu tentang karya sastra, penulisnya, pembacanya, sistem produksi (dalam hal ini penerbit dengan segala sistemnya), dan kritikus (yang dalam hal ini bisa memicu pandangan pembaca). 

Elemen-elemen yang sudah disebutkan sebelumnya, jika dalam kosmologi sastra akan menempati posisi yang sama. Tidak ada yang lebih besar. Penulis tidak dianggap lebih penting dari pembaca. Pembaca dianggap tidak lebih penting dari penerbit. Penerbit dianggap tidak lebih penting dari kritikus. Begitu juga kritikus juga tidak lebih penting dari penulis. Semuanya memiliki peranan yang sama-sama pentingnya. Sama-sama membentuk atmosfir kesusastraan, sehingga tercipta kosmologi sastra Indonesia.

Maka dari itu, jika dikerucutkan dari tiap elemen bisa melahirkan kajian-kajian yang lebih tajam atau dalam hal ini bisa disebut makrokosmos. Lantas mikrokosmos sastra membicarakan apa? Apakah yang makro bisa dianggap lebih penting dari mikro? Tidak, adanya makro karena adanya mikro. Mikro sastra yang dimaksud di sini apa? 

Mikro itu sendiri yaitu karya sastra. Penilikan mikro ini bisa dari intrinsik seperti istilah Rene Wellek dan Austin Warren. Berdasar pendapat kedua pakar tersebut, pakar strukturalis Roland Barthes menegaskan ideologi the dead of author, pengarang telah mati. Akan tetapi, antara mikro dan makro tetap menjadi bagian yang penting jika membincang kosmologi sastra. Atau dalam kata lain, interteks. Hal itu memang tidak bisa dilepaskan. Tidak ada sesuatu yang bisa benar-benar berdiri sendiri, bila kita menarik sudut pandang secara lebih luas. Tidak ada sesuatu yang benar-benar orisinil. Dan hal itu, akhirnya melahirkan gagasan postmodern. 

Apakah dalam hal ini saya mampu membincang kesemuanya itu? Tidak. Saya hanya menyediakan semua pemantik agar muncul pertanyaan-pertanyaan yang bisa menciptakan perbincangan lebih luas. Lantas jika tidak muncul pertanyaan bagaimana? Tentunya bisa disimpulkan kemungkinan tidak ada pertanyaan itu: belum memahami, ingin lebih paham, atau mengkritisi. Jika muncul pertanyaan, apakah saya harus menjawab. Juga tidak, sekali lagi, ini adalah pemantik, sehingga kita bisa membincangkan perihal kesusastraan dan kosmologinya.

Citra Pengarang Indonesia

Citra ini dibangun sejak jaman kerajaan. Kala itu, pujangga (baca: pengarang) memiliki posisi penting untuk melahirkan kesusastraan sebagai konsumsi kerajaan. Memang kesusastraan itu hanya dilakukan secara lisan, karena memang belum dikenal adanya tulisan. Posisi pencerita anonim. Cerita menyebar dari mulut ke mulut. Namun posisi pujangga dijamin dan diayomi kerajaan. Keadaan seperti masih terus berlangsung meskipun kerajaan-kerajaan satu per satu runtuh. Sebelum hal itu terjadi, ada tindakan untuk memuat jejak-jejak itu terekam hingga kini, yaitu menuliskan cerita-cerita tersebut.

Tradisi menulis di Nusantara menurut Maman S. Mahayana dimulai oleh Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Di jaman itu, kapujanggan citranya sebagai profesi masih baik di mata masyarakat. Salah satunya dilakoni oleh Mohammad Bakir yang kerjanya menulis dan menyalin cerita di sebuah batu. Lalu disewakan dengan cara menawarkan dari rumah ke rumah. Setelah runtuhnya kerajaaan, hal itu diteruskan oleh Belanda dengan meminta orang pribumi untuk menuliskan cerita yang pernah didengarnya. Hal itu membuat pengarang memiliki posisi seperti ambtenaar (pegawai pemerintah).

Masa kolonial Belanda, banyak para sastrawan Indonesia menempuh pendidikan Belanda. Hal itu yang menghasilkan citra di masyarakat bahwa seorang pengarang harusnya berpendidikan dan berpengetahuan luas. Akan tetapi, perbedaannya para pengarang sudah tidak lagi menuliskan cerita rakyat, mulai menuliskan kondisi jamannya. Hal itu akhirnya yang memunculkan identitas baru. Perkembangan kesusastraan Indonesia semakin berkembang pesat sejak lahirnya Komisi Bacaan Rakyat 1908 dan pada tahun 1917 berganti menjadi Balai Pustaka. Sejak itu pulalah, mulai berdiri penerbit-penerbit swasta. Dalam hal inilah yang membentuk peranan penerbit penting dalam kesusastraan Indonesia, selain penulis dan pembaca hingga saat ini. 

Namun saat ini, posisi sastrawan di masyarakat sudah mulai bergeser. Seorang yang berprofesi sastrawan atau seniman dianggap sebagai seorang yang tidak memiliki masa depan. Hal itu mungkin karena banyak yang memandang posisi sastrawan atau seniman itu enak. Banyak orang berbondong-bondong berniat menjadi sastrawan atau seniman, namun tidak diimbangi dengan intelektual, pengetahuan, dan kemampuan. Sesuatu yang diandalkan hanya eksentrik dan urakan, seperti sikap Chairil Anwar tanpa meniru intelektual dan kemampuannya. Sikap itu akhirnya membuat masyarakat menjadi antipati. Akan tetapi, seseorang yang masih terus mengembangkan intelektual, pengetahuan, dan kemampuan masih tetap bersaing. Menyebut di antaranya Pramoedya Ananta Toer, W. S. Rendra, Putu Wijaya, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, Nano Riantiarno, Yusri Fajar, Djamal D. Rahman, M. Aan Mansur, Afrizal Malna, M. H. Ainun Najib, dan sederet nama lain yang masih kerap diundang ke mancanegara.

Namun sebelum memasuki era modern, banyak sastrawan Indonesia yang terpaksa berdiam di penjara karena ideologinya karena menentang ideologi pemerintah. Hal itu pernah dirasakan oleh Muchtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, W. S. Rendra, Utuy Tatang Sontani, dan beberapa nama lain. Juga harus terpaksa kehilangan identitas kenegaraan seperti Sobron Aidit dan Agam Wispi. Tentunya, masih banyak sederet nama lain yang memiliki tantangan hidup yang berat dalam karier kepenulisan mereka.

Perjalanan Sastra Indonesia

Tentu dari cuplikan kronologis tersebut bisa ditarik benang merah bahwa kesusastraan Indonesia terbentuk dari beberapa elemen yang saling mendukung. Hal itu yang tentunya bisa membuat kesusastraan sejak jaman kerajaan hingga jaman digital sekarang ini tetap bertahan. Atmosfir tersebut yang terus bekerja yaitu teks (dalam hal ini karya sastra itu sendiri), pengarang, penerbit, pembaca, dan kritikus. Elemen terakhir mungkin dalam tulisan ini tidak disinggung secara jelas.

Namun peranan itu, bisa kita lihat dari fenomena kesusastraan seperti kepenyairan Chairil Anwar, Marah Rusli melalui Sitti Nurbaya, Achdiat Karta Mihardja melakui Atheis, dan fenomena-fenomena yang hingga kini menjadi catatan kesusastraan Indonesia. Tentunya, bila ditarik simpulan seorang pengarang yang kuat (baca: mengasah intelektual, pengetahuan, dan kemampuannya) yang akan bertahan. Hal itu tentu senada dengan Darwin dalam teori Evolusinya. Tidak hanya sekadar yang bisa berpenampilan nyentrik dan urakan, tetapi yang tetap mengembangkan potensi sesuai perkembangan jaman.***
*tulisan ini digunakan sebagai pemantik dalam acara Talkshow&Sharring Literasi: “Literasi dan Sejarah Kesusastraan Indonesia” bersama Soesilo Toer, Ph.D., M. Sc. (adik Pramoedya Ananta Toer, sastrawan angkatan 66) dan Syaiful Ramadhani, S. Sos., M. I.Kom. (Dosen Ilmu Komunikasi, Fisip, Unim). Acara ini diselenggarakan oleh Lapak Baca dengan tajuk MOCOFEST di Angkringan Jalan Raya Jabon, Mojokerto, Minggu, 18 Pebruari 2018.