Waspada Mantan

Masa depan tercipta karena kita sudah beranjak dari masa lalu. Namun masa lalu tetap tidak boleh dilupakan agar masa depan kita lebih baik. Namun tidak semua masa lalu sifatnya baik buat masa depan. Satu, dua, ada saja efek dari masa lalu yang bisa membuat goresan di masa depan. 

Kejadian itu terjadi dalam diri saya, kemarin hal itu hampir saja menggores masa depan. Masa depan yang ingin saya bina bersama doi. Pelaminan. Ah, sungguh hingga saya menuliskan ini kondisi masih belum membaik. Entahlah, saya bingung harus memperbaiki keadaan seperti apa. 

Doi masih tetap bersikap dingin. Padahal persyaratan menuju perkawinan kita harus segera dipersiapkan. Pernak-pernik itu begitu banyak, yang kadang sempat membuat saya ndak sempat berleha-leha. Mulai dari undangan, souvenir, kwade, terop, sound system, baju akad, preweed, makanan, kendaraan, dan tentunya banyak hal yang terus perlu dicatat juga dipersiapkan.

Namun gara-gara mantan, doi menjadi dingin. Saya ingin mengajak mempersiapkan itu semua, ia masih saja tetap dingin. Sampai akhirnya, saya harus menuliskan ini. Tentunya dengan maksud agar tidak ada yang merasakan hal seperti ini menjelang pernikahan. Pernikahan yang hanya tinggal menghitung dengan jari. 

Semoga saja semua akan menjadi lebih baik. Entah rasanya airmata ini ingin tumpah. Melihat ia terus marah, gara-gara keluputan diri ini membahas mantan dan masih menengok keadaan mantan, walau hanya sekadar bertanya kabar. Sungguh, tidak ada niat buruk pada doi. Hati ini sudah memilih. Memilih doi sebagai teman mengarungi hidup. Menjadi pasangan yang siap menerjang sedih dan bahagia bersama.

Ah, aku begitu mencintaimu sayang. Kumohon redakanlah amarahmu. Mari kita menyiapkan pernikahan kita yang semakin dekat. Maafkan daku. 

Tentu ini adalah pelajaran yang berharga. Semoga ke depan diri ini mampu memperbaiki tindakan-tindakan bodoh seperti ini. Semoga kejadian ini, menjadikan diri ini semakin mawas diri. Ya, semoga.