Mengajari Menulis

Sering kali saya diundang untuk mengisi pelatihan menulis, baik acara formal maupun nonformal. Tentunya hal itu selalu saya kerjakan dengan suka hati, sebab sejak 11 tahun lalu menulis adalah dunia yang sudah saya pilih-tekuni.

Ada kalanya mengisi materi kepenulisan di sekolah. Hampir semua jenjang, mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Memang yang paling sering tentunya tingkat SMA. Dan paling menggemaskan itu ketika memberi pelatihan di tinggat SD. Ah, benar-benar menggemaskan. Tentunya selain itu, saya salut dan bangga, seusia mereka sudah diarahkan menuju kegiatan positif.

Sesekali juga diundang perguruan tinggi untuk mengisi kuliah umum kepenulisan. Tingkat ini memang tidak sesering di tingkat sekolah. Kampus yang beberapa tahun ini sempat saya isi kuliah umum kepenulisan yaitu STKIP PGRI Jombang, Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto, dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Lembaga nonformal yang pernah saya isi pelatihan menulis yaitu pondok pesantren. Memang ini tingkat pembelajaran menulis yang unik menurut saya. Sebab pesantren biasanya lebih fokus ke dalam pembelajaran kitab. Jika belajar menulis, ini amat menarik. Jadinya, ketika mengisi pelatihan menulis di pesantren, saya amat antusias. Tentunya jika ingin memondokkan anaknya di tempat yang ada kegiatan menulis yaitu di Pondok Pesantren Darul Falah Jeruk Macan, Jetis Mojokerto dan di Pondok Pesantren Guluk-Guluk, Sumenep Madura. Ya, baru dua itu yang saya ketahui ada aktivitas kepenulisan. Dan satu lagi, tapi ini dulu (ketika saya wawancara pengasuhnya masih dalam perencanaan) dan sampai sekarang saya belum ke sana. Entah program penulisan sudah diberlakukan atau belum, Pondok Pesantren Darul Ulum Kompleks Al-Hambra, Peterongan, Jombang.

Selebihnya, masuk di forum, komunitas, dan kegiatan-kegiatan insidental. Lalu, kenapa di blog ini tidak diberi materi kepenulisan? Ya, saya di sini lebih suka santai. Hanya ingin berbicara tentang hal-hal kecil atau berceloteh.

Dan celotehan ini, saya pun ingin mengabarkan bahwa saya sedang melatih menulis istri saya. Ia saya minta menulis. Masak suaminya melatih menulis dari satu tempat ke tempat lainnya, tapi istrinya tidak dilatih menulis. Tentu sangat ironis bukan? Lah, atas dasar itu akhirnya istri saya latih menulis.

Ia selalu tidak PD. Namun saya kerap memberi arahan, bahwa segalanya itu proses. Dan ia pun berproses. Prosesnya bisa ditengok di sini. Jika punya waktu, silakan ditengok dan menjadi saksi proses kepenulisannya.

Kalau ini saya pas lagi menulis, eh, dia malah manja. Baru setelah saya selesai menulis, ia saya minta menulis dan membuat blog sebagai medianya. Ya, yang ngintip itulah si doi.
Iklan

Menjadi Penulis Penuh Waktu

​Menjadi seorang penulis adalah sebuah pilihan nekad. Apalagi menjadi penulis penuh waktu, tentu tidak hanya kekuatan lahir yang dibutuhkan, tetapi kekuatan batin. 

Dulu, untuk menerbitkan buku harus antre dan seleksi panjang. Kadang, naskah ditolak. Bila penerbit mengatakan naskah lolos, kebahagian seolah tumpah di mana-mana. Setelah itu, penerbit membuat ikatan kontrak tentang segala kesepakatan. Salah satunya yaitu royalti (hasil keringat) penulis sebesar 10 persen dan ada juga penerbit baru yang berani memberi hingga 20 persen. Jika oleh penerbit, buku itu dijual 50 ribu, maka penulis mendapatkan 5 ribu. 

Saat ini sistem penerbitan makin mudah, ada sistem indie (self publishing) yang tidak harus antre. Namun segala ongkos produksi dibebankan pada penulis. Bila penulis ingin menerbitkan melalui jalur ini, tentu harus menabung atau bahkan puasa berhari-hari demi mimpi bukunya terbit. 

Karya adalah kebahagian bagi penulis. Ya, kebahagiaan yang sangat, walau kebahagiaan itu sulit ditukar dengan materi. Bila buku terbit, ada rekan, kenalan, saudara setelah buku itu terbit, berbondong-bondong memberi selamat. Tidak jarang pula, meminta buku gratis, terkadang plus tandatangannya.

 Namun, hal itu tidak membuat penulis gusar. Ia kerap kali menghormati semua rekan, kenalan, dan saudaranya itu dengan begitu takdim. Senyum pun rekah di bibirnya, sembari tandatangan ia berpesan (dan pesannya selalu saja beda di tiap buku). Salah satunya kadang berisi “semoga bisa memberi manfaat”, atau “semoga menginspirasi”, “semoga bisa menjadi teman paling setia”, dan sederet pesan yang selalu berbeda.

 Diapresiasi seperti itu, penulis sudah sangat berbahagia. Tentu, jenis kebahagiaan itu tidak mungkin dirasakan oleh oranglain. Itulah salah satu ketangguhan seorang penulis, ia telah banyak belajar dari hidup. Belajar dari kesedihan, kesusahan, luka, dan airmata. Ya, itulah yang membuat seorang penulis menjadi seorang yang tabah dan bisa memaknai kebahagiaan sekecil apapun.

Sungguh, itulah kenapa saya bilang memilih menjadi penulis itu butuh kenekadan lahir dan batin. Bila kamu, tidak berani nekad, harap memikir ulang jika ingin menjadi penulis.

Profesi Sebagai Penulis dan Kisah-kisah Mengharukan

Itulah rasanya yang selalu saya baca dan saya dengar, ketika saya mulai benar-benar ingin serius menulis. Begitu memprihatinkan memang, namun keprihatinan itu muncul bagi seseorang yang memilih berprofesi penuh waktu sebagai penulis.

Lanjutkan membaca Profesi Sebagai Penulis dan Kisah-kisah Mengharukan

Menyendiri untuk Menulis (Lagi)

Saya mulai berkenalan dengan dunia kepenulisan sejak tahun 2000. Perkenalan itu dimulai dari puisi. Kegiatan membaca puisi itu terjadi dalam tempo yang lama, enam tahun. Hah hanya enam tahun?

Sebentar, maksud saya enam tahun itu yakni hanya membaca puisi. Setelah di atas enam tahun, saya sudah tidak setia pada puisi. Saya mulai membaca cerpen, esai, dan novel. Terus sejak kapan mulai menulis?

Lanjutkan membaca Menyendiri untuk Menulis (Lagi)

Cara Mengusir Rindu yang Terlanjur Memar

image

Tentu saya tak perlu menjelaskan tentang definisi rindu di awal tulisan ini toh? Saya yakin semua sudah amat faham dan fasih, bahkan kerap merasakan itu. Apalagi yang sekarang sedang antusias membaca tulisan ini, sebab rindu sedang memar dan menampar-nampar. Ya, rindu itu sakit kawan. Cekit-cekit.

Lanjutkan membaca Cara Mengusir Rindu yang Terlanjur Memar