Suara Hati Penestapa

Rasanya pilihan judul tulisan ini seperti begitu menyedihkan. Lantas apakah tulisan ini memang berisi sayatan kesedihan? Ah, entahlah. 

Jelasnya, tulisan ini mewakili suara orang-orang yang (sedih) ditanya “kapan nikah”? Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sulit karena memang mencari jawabannya tidak semudah menjawab pertanyaan: sudah sarapan? Sudah mandi? Semalam tidur pukul berapa? Warna favorirmu apa? Yah, pertanyaan soal menikah memang sulit dijawab. Tentunya ketika ditanya, rasanya ada gelombang campur-campur dalam dada. 

Hal itulah yang akhirnya membuat saya memilih judul tersebut. Lah, tulisan ini merupakan buah dari ketabahan menampung pertanyaan yang menyesakkan itu secara bertubi-tubi. Innalloha maashobirin. Semua akan indah pada waktunya. 

Jika kamu belum menikah, tentu betapa menyedihkan jika mendapatkan pertanyaan itu terlontar kepadamu bukan? Yah, setidaknya itulah yang dulu kerap kali saya rasakan. Sampai pada akhirnya saya mampu menemukan jawabannya dengan mengucap penuh kesungguhan dalam hati: saya niat lahir dan batin tahun depan menikah. Yah, itulah jawaban dari puluhan hingga ratusan pertanyaan yang tidak berperasaan itu. 

Sampai pada waktunya, turunlah ijabah dari doa saya itu. Tepat pada hari Minggu, 21 Mei 2017 lalu, akhirnya saya menemukan terminal perhentian. Berhentinya hati ini setelah lama berkelana dan mengarungi samudra kesunyian. Juga menampung kenestapaan dari pertanyaan-pertanyaan menyakitkan yang tidak menemukan jeda. 

Jeritan hati penestapa akhirnya terkuak. Pem-bully-an akhirnya berubah menjadi ucapan selamat. Orang-orang yang selama ini menghujani kenestapaan berganti menabur ucapan selamat dan doa-doa. Ah, ini ketulusan atau sekadar basa-basi? Entahlah. Setidaknya, jawaban saya sudah terlontar. Mereka pun akhirnya menutup mulut rapat-rapat. Yah, doa saya, semoga kamu yang kerap mendapatkan kesesakan dada karena pertanyaan serupa, bisa secepatnya menemukan jawaban. Saya berada bersama kamu. 

Tentunya, momen indah itu pula yang ingin saya bagi di sini. Sebagai pengganti jeritan para nestapa. Biasanya saya kerap mengabadikan momen seperti ini dan baru kali ini saya mengalaminya. Semoga ini yang pertama dan terakhir. Ada juga yang ganjal dari momen indah saya itu yaitu pemasangan cincin. Biasanya calon lelaki yang memasangkan ke jari calon perempuan. Lah, saat acara saya, semua beralih dan berubah. Cincin itu dipasangkan oleh Emak saya. 

Saya kala itu, hanya bisa melihat dengan rapalan doa-doa (semoga mustajabah). Cincin saya keluarkan dari kotak, lalu diambil Emak dan dipasangkan ke jari manis perempuan yang siap menampung jiwa saya yang sudah lama terkatung-katung. Beda. Apalagi saya lihat, jemari bidadari saya itu terus dipegang hingga iringan salawat selesai dilantunkan. Bibir Emak tak henti merapal doa. Doa yang entah apa. Semoga saja doa itu membuat kita jadi pasangan Samawa. Amin.

Ya, momen itu tentunya sesuatu. Beda. Meskipun berkali-kali saya memotret pertunangan, kala itu saya masih tetap berkeringat dingin dan hati berdebar-debar. Dahsyat. Tentunya indah. Seindah ketika aku melihat tatapan mata perempuan penyita hati saya itu. Duh, syahdu nian. 

Berikut ini momen itu akan saya lampirkan sebagai penutup kenestapaan. Yah, sekaligus sebagai doa tentunya. Doa agar nestapa berganti dengan bahagia dan rekah senyum dalam jalinan keluarga yang akan kita bina. Semoga.

(Proses masih terkendala, foto menyusul)

Iklan