Angka Jitu Pilihanmu

Rasanya lama sekali tidak update tulisan. Yah, rasanya celotehan dalam diri ini dalam beberapa waktu sempat hilang. Kenapa hilang? Maaf, saya tidak bisa menjawab. Sebab bila saya jawab, itu tentu sebuah alasan untuk membenarkan diri karena sudah lama tidak menulis. Ya, biarkan saya dan Tuhan yang tahu.

Baiklah, setelah lama stag. Maka saya akan mengawali celotehan dengan “angka”. Jika Anda mengikuti celotehan-celotehan saya, pasti tahu angka 99. Bila tidak tahu, maka carilah dalam daftar menu dan temukan angka itu.

Angka di sini tidak menyebut 9 ataupun 12 seperti yang sudah sempat saya singgung. Angka di sini yakni 47. Angka yang dipilih oleh PBT untuk diberikan kepada saya. Kado dua angka. Sebuah hadiah agar saya tidak melanjutkan 12 kedua atau mencapai 99 menuju mimpi. Cukup berhenti di angka 47.

Rasanya ingin menangis. Namun saya mencoba untuk tidak menangis tatkala ia memberi kado itu. Saya hanya berucap, “terimakasih, saya menerimanya, tetapi soal rasa, saya tidak bisa janji untuk menghilangkanya. Sebab jika Tuhan berkendak rasa ini terus di relung hati, maka maafkan diri ini.” Dan benar, beberapa hari lalu ketika saya bertemu dengannya. Rasa itu kembali membuncah. Ia tidak berani menatap saya. Entah. Saya diam-diam terus mengamatinya. Ya, hanya diam-diam. Rindu kembali hadir. Namun saya berusaha agar rindu saya padanya tetap rapat di dalam hati. Aroma wangi tubuhnya, sedikit mengobati kerinduan dalam diri saya. Ya, secara tidak sengaja wangi itu menyentuh dan menusuk dua lubang hidung ini. Merayap hingga ke jantung, membuatnya berdetak lebih kencang. Alamak.

 

Namun, saya berusaha menghargai pilihannya. Pilihan angka 47. Tentu, itu akan menyiksa. Sebab pertemuan dengannya akan selalu terjadi. Dan saya tetap harus mengubur rasa ini. Mungkin untuk kali terakhir, aku hanya mau berkata: aku masih mencintaimu.

Cinta kita mungkin hanya untuk seperti ini. Tidak memiliki, tetapi kita selalu dekat. Bertemu. Berbagi senyum atau kemunafikan, saya juga tidak tahu. Ya, dan saya dengan terbuka membiarkan hati ini dihuni oleh yang mau menghuninya. Sampai jumpa pada kata dan rasa yang terus menjadi rahasia. *

Twitter: @akhmadfatoni1

Iklan